Mental imperialis tak pernah mati. Ia hanya berganti rupa dari kapal perang menjadi investasi dan utang. Seperti cilik bontok dan kepala timah, mental imperialis tetap rakus. Tenang melahap. Atau bising menguasai
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Di pedataran tinggi Gayo, khusunya Gayo Lues. Dua ikan endemik kerap jadi cerita “cilik bontok dan cilik kepala timah“. Sekilas berbeda rupa, tapi tabiatnya sama “tidak peduli pada kehidupan lain di sekitarnya”.
Cilik bontok hidup di air tenang. Diam, seolah tak berbahaya. Namun sekali ia bergerak, habislah apa saja yang melintas. Inilah cermin mental imperialis diam-diam, datang dengan senyum, menawarkan persahabatan, perdagangan, bahkan “peradaban”. Tetapi di balik keramahan, lahap habislah sumber daya, tenaga, dan bahkan harga diri suatu bangsa.
Cilik kepala timah lain pula. Ia melompat-lompat di arus deras, kepalanya besar, seakan gagah. Tapi sejatinya hanya mencari perhatian. Inilah wajah mental imperialis bising, hadir dengan jargon kemajuan, kebebasan, demokrasi. Banyak kata, banyak sorak, tetapi ujungnya sama. Menguasai dan menghisap.
Sejarah membuktikan, penjajahan tak selalu datang dengan bedil. Ada yang menyamar lewat dagang, ada yang datang lewat utang. Bedanya hanya gaya, bukan tabiat. Mental imperialis tetap sama-rakus, congkak, dan lupa pada kehidupan orang lain.
Kini, di abad ke-21, bentuknya mungkin bukan kapal perang, melainkan investasi global, perdagangan timpang, atau proyek yang menjerat. Mereka hadir dengan wajah modern, tetapi pola pikirnya masih sama. Ingin menguasai aliran sungai, ladang, hutan, hingga ruang rapat korporasi.
Pertanyaan bagi kita? apakah kita akan terus jadi sungai yang membiarkan cilik bontok dan kepala timah modern berenang bebas? Atau kita berani melawan arus, menolak mental imperialis yang selalu lapar dan tak kenal cukup?
Redaksi | insetgalusnews | Tulisan ini adalah pandangan redaksi, bukan laporan ilmiah biologi perairan. Cilik bontok dan cilik kepala timah hanyalah metafora. Segala perbandingan diarahkan pada mental imperialis, baik klasik maupun modern, yang rakus terhadap sumber daya. Jika ada yang merasa tersindir, renanglah sejenak-atau cukup baca ulang dengan kepala dingin.


































