Tan Malaka adalah nama besar yang sering ditulis kecil dalam sejarah. Dua dekade sebelum proklamasi, ia sudah merancang republik, tetapi setelah Indonesia merdeka, ia justru dipenjara, disisihkan, dan dilupakan.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Sejarah bangsa tidak pernah sederhana. Selalu ada nama-nama yang terang benderang, dipuji dan dikenang, namun juga ada tokoh yang dikaburkan oleh zaman. Tan Malaka adalah salah satunya. Sosok yang pernah disebut Bung Karno sebagai “ahli revolusi” itu, justru terlupakan dalam arus besar sejarah kemerdekaan Indonesia.
Dua puluh tahun sebelum proklamasi, Tan sudah menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Ia merumuskan cita-cita Republik jauh sebelum pledoi Hatta (Indonesia Vrij) dan tulisan Bung Karno (Menuju Indonesia Merdeka). Dari tanah pelarian, ia menyalakan api republik, yang kelak menjadi inspirasi bagi para tokoh pergerakan nasional.
Namun sejarah mencatat, bukan penghargaan yang ia terima, melainkan penangkapan. Pada 1946, Tan Malaka dipenjara atas tuduhan makar-sebuah “pesanan” agar diplomasi dengan Belanda mulus tanpa gangguan suara keras dari kelompok radikal. Padahal, banyak pemikiran Tan yang kemudian terbukti benar. Ia menolak perundingan, sebab baginya penjajah tidak akan pernah ikhlas mengembalikan kemerdekaan. Dua tahun setelahnya, agresi militer Belanda II membenarkan pandangan itu.
Ironisnya, “testamen politik” Bung Karno yang menunjuk Tan sebagai pengganti bila ia dan Hatta ditangkap, tak pernah diwujudkan. Hatta menolak keras. Ia menganggap Tan terlalu meremehkan generasi muda yang tengah memimpin republik. Pada akhirnya, Tan tetap berada di pinggir panggung, memilih membantu “dari belakang saja.”
Perbedaan latar sosial-ekonomi dengan Hatta dan Sjahrir memperlebar jarak. Tan, bangsawan miskin dari desa, hidup dalam pengembaraan, mengajar anak-anak kuli perkebunan, bahkan bergaul dengan rakyat kecil. Sementara dua rekannya lahir di keluarga mapan, terbiasa dengan stabilitas dan akses yang lebih luas.
Kini, delapan dekade setelah proklamasi, kita diingatkan kembali-republik ini bukan hanya lahir dari proklamator yang namanya abadi dalam buku pelajaran, tetapi juga dari mereka yang rela tersisih, bahkan terhapus. Tan Malaka mungkin tidak pernah duduk di kursi kekuasaan, tetapi gagasan dan keberaniannya adalah pondasi republik.
Tugas kita sebagai bangsa adalah jujur kepada sejarah. Mengakui jasa yang terlupakan, menghadirkan kembali suara yang pernah dibungkam, agar generasi mendatang belajar bahwa kemerdekaan tidak lahir dari satu nama saja. Republik ini berdiri atas darah, pikiran, dan pengorbanan banyak orang.
Tan Malaka memang “Bapak Republik yang dilupakan.” Tetapi melupakannya sama saja mengkhianati republik itu sendiri.
Redaksi | insetgalusnews | Tulisan ini merupakan tajuk rencana yang merefleksikan pandangan redaksi Insetgalusnews. Setiap interpretasi atas fakta sejarah diambil dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Redaksi tidak bermaksud mengkultuskan atau mendiskreditkan tokoh tertentu, melainkan mengajak pembaca melihat kembali warisan pemikiran yang kerap terabaikan.
Catatan Rujukan:
- Tempo (2008), Tan Malaka; Bapak Republik yang Dilupakan. Jakarta; Majalah Tempo & KPG.
- Poeze, Harry A. (2007). Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (Jilid I–III). Jakarta; Yayasan Obor Indonesia.
- Soe Hok Gie (1966). Di Bawah Lentera Merah. Jakarta; Pustaka.
- Anderson, Benedict R. O’G. (1972). Java in a Time of Revolution; Occupation and Resistance, 1944–1946. Ithaca; Cornell University Press.
- Pledoi Soekarno (1931). Indonesia Menggugat. Dikutip dari risalah persidangan Landraad Bandung.
- Mohammad Hatta (1970). Untuk Negeriku; Sebuah Otobiografi. Jakarta; Tintamas.


































