Untuk generasi pemikir….
Debat dengan orang pintar itu seperti main catur menantang dan bikin mikir. Debat dengan orang bodoh? Lebih mirip main ular tangga, bedanya ular semua, tangga tak ada.
Di jalan pikiran, perdebatan bisa jadi cahaya atau jadi kabut. Bersama orang pintar, kita menemukan arah. Bersama orang bodoh, kita hanya tersesat dalam riuh tanpa makna.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Berdebat dengan orang pintar itu ibarat ikut kelas tambahan gratis. Kita dipaksa mikir lebih dalam, mengulik fakta, dan mencari logika yang lebih rapi. Memang melelahkan, tapi ada ilmunya. Rasanya seperti olahraga otak, capek tapi sehat.
Lain halnya bila berdebat dengan orang bodoh. Itu lebih mirip tes kesabaran tingkat dewa. Faktanya diabaikan, logikanya dicampakkan, volumenya justru dinaikkan. Seolah-olah semakin keras suara, semakin benar argumennya. Padahal, hasil akhirnya sama, telinga panas, kepala pusing, hati kesal.
Karena itu, mundur dari debat semacam ini bukan tanda kalah. Justru tanda masih waras. Energi lebih baik dipakai untuk hal yang bermanfaat seperti berkarya, bikin data, atau menambah prestasi. Biarlah karya yang berbicara, karena bukti nyata jauh lebih keras suaranya daripada debat tanpa ujung.
Kalau ketemu orang keras kepala, anggap saja lagi ngobrol sama tembok. Bedanya, tembok tidak teriak-teriak. Jadi, daripada buang energi, lebih baik cari pintu keluar dan lanjut jalan. Toh, hidup ini terlalu singkat untuk habis di panggung debat yang tak pernah ada jurinya.
Tajuk Rencana | insetgalusnews | ini terinspirasi dari salah satu akun dimedsos, tidak ditujukan untuk siapa pun. Kalau ada yang tersinggung, mungkin perlu beli headphone baru biar telinga lebih adem.


































