EPISODE 2
Hamparan pepohonan membentang sejauh mata memandang. Di balik hijaunya perkebunan, suara tembakan dan ledakan sesekali memecah kesunyian.
Di daerah konflik itulah Edwar Canto mengawali perjuangan hidupnya.
Bukan sebagai pejabat.
Bukan pula sebagai peneliti.
Ia hanyalah seorang sarjana muda yang sedang mencari masa depan.
PARIWARA |insetgalusnews.com | Tahun 1994 bukan masa yang mudah bagi lulusan perguruan tinggi dari daerah terpencil seperti Gayo Lues.
Setelah wisuda dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Edwar memilih bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit di wilayah Aceh Timur.
Keputusan itu diambil karena pilihan lain hampir tidak ada.
Setiap hari ia bekerja di tengah suasana yang tidak menentu. Konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia sedang berada pada fase yang intens.
Suara tembakan menjadi bagian dari keseharian.
Namun situasi sulit itu justru membentuk mentalnya.
Ia belajar bertahan, beradaptasi, dan tidak mudah menyerah.
Dua tahun kemudian, Edwar mengambil keputusan yang lebih besar lagi. Ia merantau ke Jakarta.
Tanpa koneksi dan tanpa jaminan keberhasilan, ia mengikuti seleksi pegawai negeri Departemen Pertanian.
Lebih dari 3.000 peserta mengikuti seleksi tersebut.
Persaingan sangat ketat.
Tetapi keberuntungan berpihak pada mereka yang bekerja keras.
Edwar dinyatakan lulus.
Ia ditempatkan sebagai peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan.
Kariernya perlahan menanjak.
Ia turun langsung mendampingi petani di lahan pasang surut Musi Banyuasin, mengembangkan teknologi budidaya padi, jagung, kedelai hingga melakukan berbagai penelitian pertanian.
Bagi Edwar, laboratorium terbaik bukanlah ruangan berpendingin udara.
Laboratorium terbaik adalah sawah dan ladang tempat petani menggantungkan hidup.
Keinginannya untuk terus belajar mendorongnya melanjutkan pendidikan magister di Universitas Padjadjaran Bandung.
Perjalanan akademik itu memperkuat kompetensinya sebagai peneliti dan pemulia tanaman.
Namun semakin tinggi kariernya berkembang di luar daerah, semakin kuat pula panggilan hatinya untuk pulang.
Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya.
Untuk apa ilmu yang dimiliki jika tidak kembali memberi manfaat bagi tanah kelahirannya?
Tahun 2007 menjadi titik balik.
Setelah lebih dari satu dekade berkarier di Sumatera Selatan, Edwar memutuskan pulang ke Gayo Lues.
Sebuah keputusan yang mengubah arah hidupnya.
Ia meninggalkan zona nyaman demi satu tujuan: membangun kampung halaman.
(Bersambung ke Episode 3: “Kembali ke Gayo Lues, Mengabdi Tanpa Henti”)
Redaksi | insetgalusnews.com


































