Aksi mahasiswa PSDKU Unsyiah pada 26 Agustus 2025 bukan sekadar unjuk rasa spontan. Ia adalah tanda bahwa generasi muda negeri seribu bukit telah bangkit, menolak diam, dan berani menagih janji pembangunan yang semakin jauh dari denyut rakyat
Tajuk Rencana | insetgalusnews.com | Aksi mahasiswa PSDKU Unsyiah dengan beberapa tuntutan yang mereka gaungkan Selasa 26 Agustus 2025 kemarin bukanlah sekadar unjuk rasa sesaat. Ia adalah tanda, bahwa generasi muda di negeri seribu bukit ini sudah tidak lagi mau diam melihat arah pembangunan yang kian jauh dari denyut nadi rakyat.
Selama ini, wacana pembangunan kerap berhenti di ruang rapat pejabat dan dokumen-dokumen resmi. Namun, di balik kertas-kertas itu, rakyat masih bergulat dengan harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali, jalan rusak di pelosok, fasilitas kesehatan terbatas, serta sekolah yang jauh dari layak.
Kini, suara mahasiswa menjadi alarm keras. Mereka menuntut transparansi, efisiensi, pemerataan, dan penghentian gaya hidup mewah pejabat. Tuntutan itu sederhana, tetapi menyentuh inti, anggaran daerah adalah amanah rakyat, bukan sarana untuk memoles citra pribadi.
Lebih jauh, mahasiswa menekankan pentingnya roadmap ekonomi dengan target pertumbuhan jelas, penguatan sektor pertanian, pariwisata, serta pemberantasan tambang ilegal yang merusak hutan dan menggerogoti masa depan. Dari ruang kelas dan kampus, mereka turun ke jalan demi menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan petani, guru, pelajar, hingga masyarakat terpencil di Lesten, Remukut, dan Tetingi.
Ini adalah momentum penting. Ketika pemuda mulai bersuara, ia menjadi cermin bahwa masyarakat tak lagi ingin hanya menjadi penonton dari kebijakan yang dijalankan elitis. Mereka menolak menjadi generasi yang pasrah. Mereka memilih menjadi generasi yang lantang, yang menagih janji, dan yang berani mengingatkan.
Tajuk ini bukan untuk membenarkan semua bentuk aksi. Tertib dan damai adalah syarat mutlak. Namun, substansi yang dibawa mahasiswa jelas “Gayo Lues tidak butuh simbol kemewahan, melainkan pembangunan yang nyata, merata, adil, dan berkelanjutan”.
Akhirnya, pemuda bersuara. Pertanyaannya? beranikah pemerintah mendengar, atau sekadar menyambut tanpa tindak lanjut?
Redaksi | insetgalusnews | Tulisan ini adalah tajuk rencana, bukan straight news. Kalau ada yang merasa tersindir, mungkin cermin sedang mengarah kepada anda


































