Di Balik Sorai Kemenangan, “Birokrasi Bingung Kepada Siapa Harus Setia”

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Kamis, 10 Juli 2025 - 21:11 WIB

50396 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

doc | inset | Ilustrasi

doc | inset | Ilustrasi

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Di balik sorak-sorai kemenangan politik. Di balik tepuk tangan yang mengiringi pelantikan seorang pemimpin. Ada satu hal yang sering terlupakan, harapan rakyat agar birokrasi tetap bekerja dengan jujur dan adil. Namun harapan itu terkadang retak, saat kekuasaan bukan hanya dijalankan oleh mereka yang terpilih secara resmi, tapi juga oleh mereka yang pernah menjadi “pemenang di balik layar”,  tim sukses, relawan, dan barisan loyalis yang merasa telah membeli tiket kekuasaan dengan keringat dan suara.

Mereka tidak duduk di kursi resmi pemerintahan. Nama mereka tak tercantum dalam struktur kelembagaan. Tapi langkah mereka nyaring terdengar di lorong-lorong kekuasaan. Mereka mengetuk pintu para kepala dinas, memanggil camat, mengatur ini itu, bahkan mengarahkan siapa yang boleh naik jabatan dan siapa yang harus disingkirkan. Bukan karena mereka tahu lebih baik, tapi karena mereka merasa berhak.

Lalu birokrasi pun menjadi bingung, kepada siapa harus setia?

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apakah pada sumpah jabatan. Pada aturan yang tertulis. Atau pada suara-suara yang membisikkan kekuasaan dari balik panggung politik? Di sinilah letak kehancuran itu akan bermula. Ketika birokrat profesional tak lagi bebas berpikir berdasarkan data dan kebutuhan publik, tapi harus menyesuaikan langkah dengan kehendak orang-orang yang tak pernah disumpah sebagai pejabat negara.

Kita lupa bahwa birokrasi bukan milik siapa pun. Ia adalah milik rakyat. Ia dibangun bukan untuk melayani penguasa atau kelompok pemenang, tetapi untuk menjamin bahwa setiap warga Negara. Tanpa kecuali. Mendapat hak dan pelayanan yang sama. Ketika arah kebijakan ditentukan oleh balas jasa, maka keadilan pun menjadi korban pertama.

Yang terjadi bukan hanya penyimpangan, tapi pelanggaran berat terhadap nilai-nilai profesionalisme. Terhadap hukum. Terhadap etika dan terhadap kepercayaan publik.

Seorang pegawai negeri yang jujur, yang mengabdikan hidupnya dengan kesetiaan pada pemerintah. Bisa tiba-tiba terpinggirkan karena tidak tahu caranya “mendekat ke lingkaran dalam”. Sementara mereka yang punya akses politik, naik pangkat bukan karena prestasi, tapi karena kedekatan. Ini bukan sekadar cerita sedih di ruang kerja yang sunyi, ini adalah kisah rusaknya sistem dari dalam.

Pemerintahan tak akan tumbang karena suara bising di jalanan. Tapi pemerintah bisa runtuh perlahan jika di dalamnya, keadilan diperdagangkan dan profesionalisme dikorbankan atas nama “balas budi”.

Sudah saatnya kita jujur melihat ke dalam. Para pemimpin harus berani menempatkan loyalitas kepada rakyat di atas loyalitas kepada kelompok. Birokrasi harus dijaga dari infiltrasi politik, karena sekali mesin ini dikuasai oleh mereka yang tidak paham tugas dan etika, maka rusaklah pelayanan, runtuhlah kepercayaan, dan sirnalah harapan.

Kemenangan sejati bukan saat seseorang duduk di kursi kekuasaan, tapi saat kekuasaan itu dijalankan dengan hati yang bersih dan tangan yang tidak ikut bermain.


Tajuk Rencana insetgalusnews ini merupakan pandangan redaksi yang disusun berdasarkan analisis terhadap dinamika pemerintahan dan tata kelola birokrasi secara umum. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian atau tokoh tertentu, hal tersebut bersifat kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menyerang atau menyudutkan pihak mana pun.

Berita Terkait

ANEKDOT Tiga Sekawan Dan Mukjizat Tanaman Kopi
Dia Tu Lagi Lucu Lucunya…. Jaman Dulu; Kerja-Baru Prestasi-Jaman Digital; Penghargaan Dulu-Kerja Nanti
Negeri dalam Mode “Siap, Pak!” Kalau Semua Bilang “Siap”, Siapa yang Bilang Salah?
Kopi Sudah Mau Go International, GERETEK Masih Cari Sinyal
Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 11:39 WIB

Hujan Deras Picu Air Meluap, Kendaraan Roda Enam Terguling di Aih Bobo

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:49 WIB

Kebakaran Hanguskan 11 Rumah di Kampung Lokop Baru Gayo Lues

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:50 WIB

Dari Gayo Lues ke Jakarta, Bupati Suhaidi Perjuangkan 7 Jembatan dan Jalan Lesten

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:45 WIB

Tegang di Dukuh Atas, 1.814 Mahasiswa Suarakan Delapan Tuntutan kepada Pemerintah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:36 WIB

Muhammadiyah Gayo Lues Galang Dana untuk Korban Kebakaran di Jagong Jeget

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:16 WIB

Satu Tewas dalam Bentrokan Antar Kelompok di Menteng, Delapan Orang Diamankan Polisi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:52 WIB

Jelang Kongres II PNA, Irwandi Yusuf Nyatakan Siap Pimpin Kembali Partai

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:05 WIB

Di Balik Konten yang Menuai Kecaman, Ada Penyesalan; Dea Arranoya Memilih Meminta Maaf ke Publik

Berita Terbaru

Pimpinan Cabang Bank Aceh Syariah Gayo Lues, Mahara Miko serahkan bantuan kepada korban kebakaran Desa Ulun Tanoh yang diterima langsung oleh Pengulu setempat, Suhardinsyah, Kamis (10/9/2026)

GAYO LUES

Bank Aceh Syariah Hadir, Bantu Korban Kebakaran Desa Ulun Tanoh

Kamis, 10 Sep 2026 - 17:31 WIB

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan