Petani dilarang cangkul di tanah, Tambang dijemput dengan karpet merah. Rakyat bersuara-disebut gaduh, Perusahaan bisik-langsung disetujuh.
DPR katanya ramai dipilih, Tapi ke lapangan, cuma satu yang terlihat. Yang lain reses? Atau rehat di ruang sunyi penuh isyarat?
Suara rakyat tak sedahsyat modal, Maka jerit petani pun terdengar normal. Wakil yang bicara hanya segelintir, Sisanya jadi pajangan di daftar hadir.
Kalau cukup satu yang ingat jerit, Untuk apa pilih banyak dengan sulit? Lain kali cukup satu yang jujur berdiri, Yang lain… silakan pensiun dini
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Rakyat disuruh memilih, lalu disuruh diam. Inilah kenyataan getir yang dirasakan warga Kecamatan Putri Betung dan Pantan Cuaca, Gayo Lues.
Petani yang turun ke ladang kini menghadapi larangan dari Perpres No. 5 Tahun 2025, yang menyetop aktivitas perkebunan rakyat di Kawasan Ekosistem Leuser. Namun, di saat bersamaan, izin eksplorasi tambang justru mendapat karpet merah di hutan Tengkereng.
Petani menggenggam cangkul dilarang. Perusahaan menggenggam bor, disambut hangat. Beginikah logika kebijakan?
Namun ada yang lebih senyap dari hutan yang ditebang, suara wakil rakyat di Senayan. Dari sekian nama yang dipilih rakyat Aceh I, hanya satu yang terlihat hadir di tengah masyarakat, menyimak jeritan petani-H Irmawan.
Lalu, di mana yang lain?
Apakah reses berarti rehat di ruang sunyi tanpa rakyat? Atau mungkin urusan rakyat tak sepadat agenda-agenda lainnya?
Kalau hanya satu wakil yang hadir, untuk apa rakyat bersusah payah memilih banyak nama? Apakah kita sedang membangun demokrasi representatif, atau hanya menyusun daftar hadir simbolis?
Wakil rakyat seharusnya menjadi jembatan antara suara rakyat dan kebijakan negara, bukan pagar sunyi yang hanya muncul dalam baliho atau momen pemilu.
Lebih ironis jika ada yang lebih rajin menyambangi perusahaan tambang, ketimbang ladang-ladang rakyat yang dilarang bertani. Jangan-jangan, suara rakyat memang tak sepadat suara modal.
Rakyat Gayo Lues menanti kejelasan. Kalau memang hanya satu yang bicara dan turun langsung, mungkin ke depan cukup satu saja yang dipilih. Selebihnya, biarlah pensiun dengan tenang.
Tajuk Rencana ini adalah pandangan redaksi Insetgalusnews.com, disusun berdasarkan dinamika sosial yang berkembang di Gayo Lues, khususnya polemik Perpres No. 5/2025 dan isu eksplorasi tambang di kawasan hutan Tengkereng. Gaya satire digunakan sebagai bentuk kritik sosial yang sah dan dilindungi dalam praktik jurnalistik.
Redaksi terbuka untuk hak jawab dan klarifikasi dari seluruh pihak yang disebutkan atau merasa berkepentingan.


































