“Mari berbenah, bukan menyerah. Bangkit bersama, bukan hanya percaya. Gayo Lues bisa bersinar, asal kemauan tak sekadar di meja, tapi di ladang, di tangan, di dada kita”
Tajuk Rencana | insetgalusnews.com | Gayo Lues kembali disorot. Kali ini bukan soal infrastruktur yang timpang atau konflik berkepanjangan, melainkan sebuah janji besar: menjadi pemain ekspor kopi dan kakao dunia. Investor Malaysia menyatakan siap mendampingi dari hulu ke hilir. Tapi pertanyaannya, apakah Gayo Lues benar-benar siap?
Kehadiran PT Sinco Traider dan PT Malin Dunia Internasional menjadi sinyal bahwa potensi Gayo Lues mulai diperhitungkan. Namun mari bicara jujur, niat baik investor tak akan berarti jika pemerintah daerah dan pengusaha lokal terus terjebak dalam budaya seremoni tanpa aksi. Kita sudah terlalu lama larut dalam euforia pertemuan, bukan pembangunan.
Investor sudah bicara terus terang, kualitas kakao Aceh buruk. Tak memenuhi standar higienis, pengolahannya pun masih sangat tradisional. Ini bukan sekadar kritik, ini tamparan. Bagaimana mungkin daerah yang selama ini bangga dengan komoditasnya justru gagal dalam hal paling mendasar, proses produksi?
Namun di sisi lain, kita juga patut waspada. Bagaimana jika investor ini hanyalah deretan kata manis yang berakhir tanpa bukti? Gayo Lues pernah dijanjikan hal-hal besar, tapi banyak yang akhirnya hilang tanpa jejak, hanya meninggalkan dokumentasi pertemuan dan papan nama perusahaan di pameran.
Jangan sampai kita kembali menjadi korban janji palsu. Pemerintah daerah harus berani bertanya, apa bukti keseriusan mereka? Apakah sudah ada modal yang ditanamkan? Apakah sudah ada kontrak yang menjamin keberlanjutan, bukan sekadar kunjungan singkat dan foto bersama “wara wiri cakap sana cakap sini”? Jika hanya sebatas “cuap-cuap investasi,” maka publik berhak tahu, dan pemerintah wajib tegas.
Wakil Bupati menyebut wilayah Putri Betung, Pining, dan Terangun sebagai lokasi awal. Baik. Tapi wilayah tak akan berubah jika yang dipindahkan hanya papan proyek, bukan kapasitas manusianya. Tanpa peningkatan SDM, tanpa pendampingan riil kepada petani, dan tanpa sistem distribusi hasil yang adil semua ini akan berakhir sebagai ilusi kolektif.
Para pengusaha lokal pun harus jujur pada diri sendiri, mau ikut berubah atau hanya ingin menumpang untung? Jangan sampai keberhasilan proyek ini hanya dinikmati segelintir elite, sementara petani tetap berkutat dengan alat seadanya dan harga jual yang tak berdaya tawar.
Gayo Lues punya peluang emas. Tapi peluang itu bisa lenyap jika kita terus memilih nyaman dalam ketertinggalan dan enggan berubah. Pertemuan bukan prestasi, ia hanya pembuka. Yang menentukan adalah aksi setelahnya. “Tepuk dada tanya selera”?
Tajuk Rencana | insetgalusnews.com | memberikan pandangan kritis berdasarkan isu yang sedang mencuat di Kabupaten Gayo Lues. Untuk dibaca masyarakat Indonesia sebagai kontrol sosial dan menumbuhkan kesadaran kolektif. Redaksi membuka ruang hak jawab bagi pihak yang disebutkan.


































