“Jika uang adalah nadi, maka rakyat adalah tubuhnya. Dan tubuh itu kini menggigil dalam kelaparan yang diam.”
Tajuk Rencana | Insetgalusnews.com | Ada piring yang tetap kosong di waktu makan. Ada toko kelontong yang tak lagi membuka buku kas. Ada anak-anak yang mulai terbiasa dengan jawaban “nanti kalau sudah gajian”. Begitulah bunyi luka yang tak terdengar tapi terasa. Ketika uang tak mengalir, maka hidup rakyat pun ikut tersendat.
Di delapan kecamatan Kabupaten Gayo Lues, denyut ekonomi seperti jantung yang kehilangan irama. Hingga kuartal kedua tahun anggaran berjalan, pemerintah daerah belum juga mencairkan anggaran. Akibatnya, pasar tradisional hanya menjadi tempat orang lewat, bukan tempat orang belanja. Para pedagang kecil menyeka keringat, bukan karena sibuk melayani pembeli, tapi karena cemas menghitung hari tanpa transaksi.
Yang paling terhempas adalah Kecamatan Blangkejeren. Kota yang selama ini hidup dari denyut dana APBD. Kini seperti kota bayangan. Ada bangunan, ada orang, tapi tidak ada perputaran. Pegawai pemerintah belum gajian. Proyek pembangunan menunggu tanda tangan. Sementara masyarakat lapisan bawah, yang hidup dari limpahan kegiatan ekonomi daerah, kini hanya bisa berharap pada langit, bukan pada kebijakan.
Namun, tidak semua wilayah tenggelam dalam kesuraman. Ada secercah pelajaran dari kecamatan seperti Kutepanyang, Putri Betung, Blang Jerango. Di sana, rakyat menggantungkan hidup dari tanah, bukan dari kantor. Mereka menanam, memanen, dan menjual hasilnya. Mereka tidak menunggu anggaran, karena mereka punya ladang dan semangat. Putri Betung bahkan dikenal dengan palawijanya. Satu isyarat bahwa rakyat kecil bisa mandiri bila diberi ruang tumbuh yang adil.
Kita harus bertanya dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi di tubuh birokrasi kita? Apakah ini soal perencanaan yang lamban, sistem keuangan yang terlalu rumit, atau ada permainan kekuasaan yang sengaja menahan aliran dana demi mengamankan posisi?
Jika benar bahwa anggaran ditahan karena ada yang harus disingkirkan dari kursi kekuasaan, maka ini bukan sekadar kelalaian, ini adalah kejahatan. Sebab piring kosong itu nyata. Anak yang tak sekolah karena orang tuanya belum digaji itu nyata. Dan mereka yang kehilangan harapan bukanlah statistik, mereka manusia.
Tajuk insetgalusnews ini bukan sekadar kritik. Ini panggilan moral. Untuk para pemimpin di Gayo Lues, rakyat bukan pion dalam catur kekuasaan. Mereka bukan angka dalam laporan keuangan. Mereka adalah nyawa dari negeri ini. Jika pemerintah terus abai, maka bukan hanya ekonomi yang mati, tetapi kepercayaan pun ikut dikubur bersama harapan.
Kini saatnya Gayo Lues membangun ekonomi yang tidak bergantung pada satu keran. Bertumpu pada kekuatan rakyat. Pertanian, UMKM, dan produksi nyata. Anggaran boleh tersendat, tapi jangan sampai harapan rakyat ikut terputus. Karena sekali kepercayaan runtuh, maka tak ada pembangunan yang bisa berdiri di atasnya.
Kami, dari Insetgalusnews, akan terus mengulik, menyuarakan, dan berdiri di sisi rakyat. Karena suara mereka adalah suara yang tak boleh dibungkam.
Tajuk Rencana | insetgalusnews.com | memberikan pandangan kritis berdasarkan isu yang sedang mencuat di Kabupaten Gayo Lues. Untuk dibaca masyarakat Indonesia sebagai kontrol sosial dan menumbuhkan kesadaran kolektif.


































