Kok Kompak, Curiga Kita

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Sabtu, 2 Agustus 2025 - 21:01 WIB

50635 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tajuk ini bukan ditulis oleh oposisi, bukan pula hasil bisikan jin penebar hoaks. Ini hanya suara dari pinggiran, yang kebetulan masih punya akal sehat dan sedikit keberanian. Jika Anda merasa tersinggung, mungkin Anda sedang terlalu dekat dengan kekuasaan. Jika Anda tertawa, selamat, berarti demokrasi kita belum mati total.

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Demokrasi itu seperti pajak terpadu diawal bulan-ribut, ramai, kadang bikin pusing, tapi hidup.

Ia bukan ruang karaoke eksklusif tempat semua orang diwajibkan menyanyikan lagu yang sama, kunci yang sama, dan tentu saja pujian yang sama. Tapi sayang seribu sayang, akhir-akhir ini demokrasi mulai terasa seperti festival nyanyi wajib bertema “Pemerintah Baik Hati, Suka Menolong”.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Media pun, entah karena kelelahan atau keasyikan minum kopi gratis di rapat koordinasi, perlahan-lahan mulai terdengar seperti backing vocal yang selalu siap bilang “Setuju Pak!” bahkan sebelum pertanyaannya selesai.

Apakah ini demokrasi? Ataukah hanya opera sabun berjudul “Semua Baik-Baik Saja”, dengan babak tambahan: “Jangan Tanya yang Aneh-Aneh Nanti Dianggap Oposisi”?

Di pelosok negeri. Termasuk Gayo Lues tercinta. Suara-suara yang sedikit berbeda mulai dianggap gangguan sinyal. Aktivis lingkungan yang mengingatkan soal hutan? Dicap pengganggu pembangunan. Warga yang bertanya soal dampak proyek? Langsung masuk daftar “penghambat kemajuan”. Dan media? Ah, sebagian malah lebih sibuk mewartakan sukses acara tanam jagung ketimbang menggali fakta kenapa sungai makin keruh.

Padahal, demokrasi yang sehat butuh suara sumbang. Ia butuh wartawan yang cerewet, warga yang kepo, dan dewan yang tak alergi kritik. Kalau semua hanya tepuk tangan, itu namanya bukan demokrasi. Itu pertunjukan sulap. Dan kita tahu, sulap itu soal ilusi.

Bayangkan orkestra di mana semua alat musik hanya boleh memainkan nada “C Major” karena nada lain dianggap makar. Memang terdengar rapi. Tapi membosankan dan menyesatkan. Karena musik yang indah lahir dari harmoni. Dan harmoni itu butuh perbedaan.

Begitu pula negeri ini. Ia tak akan maju hanya dengan slogan dan baliho. Ia perlu ruang untuk bertanya, mengkritik, bahkan berdebat tanpa takut disuruh “diam dulu, ini agenda pemerintah, nanti kamu saya somasi.”

Kita tidak anti pemerintah. Tapi kita juga tidak ingin jadi penari abadi tanpa boleh bertanya kapan istirahat. Dalam demokrasi, menyuarakan perbedaan bukan bentuk kebencian. Ia justru tanda cinta. Cinta pada negeri yang tak ingin disesatkan oleh keseragaman yang pura-pura manis.

Kalau media hanya jadi corong kekuasaan, maka biarkan kami bertanya? siapa yang akan jadi alarm ketika negara mulai ngelindur?

Redaksi | insetgalusnews |

Berita Terkait

ANEKDOT Tiga Sekawan Dan Mukjizat Tanaman Kopi
Dia Tu Lagi Lucu Lucunya…. Jaman Dulu; Kerja-Baru Prestasi-Jaman Digital; Penghargaan Dulu-Kerja Nanti
Negeri dalam Mode “Siap, Pak!” Kalau Semua Bilang “Siap”, Siapa yang Bilang Salah?
Kopi Sudah Mau Go International, GERETEK Masih Cari Sinyal
Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 11:39 WIB

Hujan Deras Picu Air Meluap, Kendaraan Roda Enam Terguling di Aih Bobo

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:49 WIB

Kebakaran Hanguskan 11 Rumah di Kampung Lokop Baru Gayo Lues

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:50 WIB

Dari Gayo Lues ke Jakarta, Bupati Suhaidi Perjuangkan 7 Jembatan dan Jalan Lesten

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:45 WIB

Tegang di Dukuh Atas, 1.814 Mahasiswa Suarakan Delapan Tuntutan kepada Pemerintah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:36 WIB

Muhammadiyah Gayo Lues Galang Dana untuk Korban Kebakaran di Jagong Jeget

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:16 WIB

Satu Tewas dalam Bentrokan Antar Kelompok di Menteng, Delapan Orang Diamankan Polisi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:52 WIB

Jelang Kongres II PNA, Irwandi Yusuf Nyatakan Siap Pimpin Kembali Partai

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:05 WIB

Di Balik Konten yang Menuai Kecaman, Ada Penyesalan; Dea Arranoya Memilih Meminta Maaf ke Publik

Berita Terbaru

Pimpinan Cabang Bank Aceh Syariah Gayo Lues, Mahara Miko serahkan bantuan kepada korban kebakaran Desa Ulun Tanoh yang diterima langsung oleh Pengulu setempat, Suhardinsyah, Kamis (10/9/2026)

GAYO LUES

Bank Aceh Syariah Hadir, Bantu Korban Kebakaran Desa Ulun Tanoh

Kamis, 10 Sep 2026 - 17:31 WIB

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan