Tajuk ini bukan ditulis oleh oposisi, bukan pula hasil bisikan jin penebar hoaks. Ini hanya suara dari pinggiran, yang kebetulan masih punya akal sehat dan sedikit keberanian. Jika Anda merasa tersinggung, mungkin Anda sedang terlalu dekat dengan kekuasaan. Jika Anda tertawa, selamat, berarti demokrasi kita belum mati total.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Demokrasi itu seperti pajak terpadu diawal bulan-ribut, ramai, kadang bikin pusing, tapi hidup.
Ia bukan ruang karaoke eksklusif tempat semua orang diwajibkan menyanyikan lagu yang sama, kunci yang sama, dan tentu saja pujian yang sama. Tapi sayang seribu sayang, akhir-akhir ini demokrasi mulai terasa seperti festival nyanyi wajib bertema “Pemerintah Baik Hati, Suka Menolong”.
Media pun, entah karena kelelahan atau keasyikan minum kopi gratis di rapat koordinasi, perlahan-lahan mulai terdengar seperti backing vocal yang selalu siap bilang “Setuju Pak!” bahkan sebelum pertanyaannya selesai.
Apakah ini demokrasi? Ataukah hanya opera sabun berjudul “Semua Baik-Baik Saja”, dengan babak tambahan: “Jangan Tanya yang Aneh-Aneh Nanti Dianggap Oposisi”?
Di pelosok negeri. Termasuk Gayo Lues tercinta. Suara-suara yang sedikit berbeda mulai dianggap gangguan sinyal. Aktivis lingkungan yang mengingatkan soal hutan? Dicap pengganggu pembangunan. Warga yang bertanya soal dampak proyek? Langsung masuk daftar “penghambat kemajuan”. Dan media? Ah, sebagian malah lebih sibuk mewartakan sukses acara tanam jagung ketimbang menggali fakta kenapa sungai makin keruh.
Padahal, demokrasi yang sehat butuh suara sumbang. Ia butuh wartawan yang cerewet, warga yang kepo, dan dewan yang tak alergi kritik. Kalau semua hanya tepuk tangan, itu namanya bukan demokrasi. Itu pertunjukan sulap. Dan kita tahu, sulap itu soal ilusi.
Bayangkan orkestra di mana semua alat musik hanya boleh memainkan nada “C Major” karena nada lain dianggap makar. Memang terdengar rapi. Tapi membosankan dan menyesatkan. Karena musik yang indah lahir dari harmoni. Dan harmoni itu butuh perbedaan.
Begitu pula negeri ini. Ia tak akan maju hanya dengan slogan dan baliho. Ia perlu ruang untuk bertanya, mengkritik, bahkan berdebat tanpa takut disuruh “diam dulu, ini agenda pemerintah, nanti kamu saya somasi.”
Kita tidak anti pemerintah. Tapi kita juga tidak ingin jadi penari abadi tanpa boleh bertanya kapan istirahat. Dalam demokrasi, menyuarakan perbedaan bukan bentuk kebencian. Ia justru tanda cinta. Cinta pada negeri yang tak ingin disesatkan oleh keseragaman yang pura-pura manis.
Kalau media hanya jadi corong kekuasaan, maka biarkan kami bertanya? siapa yang akan jadi alarm ketika negara mulai ngelindur?
Redaksi | insetgalusnews |


































