“Di Kalapinang, ada kafe sunyi, siang ngopi, malam… agak misteri. Warga dua kampung mulai curiga, “Ini tempat ngopi atau drama tiga babak pula?”
Sudah ditegur, tetap buka, kayak warung indomie pas jam dua. Akhirnya datang tim gabungan, bukan buat pesan latte, tapi pengamanan.
Enam orang langsung dibawa, katanya sih cuma ngobrol biasa. Tapi bukti berkata lebih keras, daripada alasan yang terlalu cerdas.
Jadi pelajaran bagi yang lain, jangan campur kopi dengan urusan yang nyleneh lain. Karena jika aturan terus dilanggar, ngopi pun bisa berakhir di kantor penyidik yang sabar”
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Kafe biasanya tempat mencari ketenangan, kopi hangat, dan mungkin sedikit WiFi gratis. Tapi di Kalapinang, Blangkejeren, ada kafe yang “paket lengkap” ada kopi, ada musik, ada minuman keras, dan katanya-ada bonus layanan “teman ngobrol” malam hari. Entah ini kafe, karaoke, atau seminar motivasi dalam versi gelap.
Warga dua kampung-Leme dan Kendawi-akhirnya bersuara. Setelah cukup lama menahan kesabaran, mereka kirim surat resmi. Karena kalau cuma ngomel di warung kopi, mungkin tak cukup meyakinkan. Dan benar saja, hari Minggu malam, tim gabungan-Polisi, Satpol PP, TNI, dan warga-turun tangan.
Penggerebekan dilakukan sekitar pukul 20.30 WIB. Bukan jam sahur, bukan juga jam salat tarawih. Tapi pas sekali untuk menangkap keenam penghuni kafe yang sedang “tidak sedang ngopi”.
Kapolres melalui Kasat Reskrim bilang, ini bukan kali pertama. Pelakunya pernah ditahan tapi berbuat lagi, seolah pelaku tak pernah jera. Ia kelola cafenya seperti punya sistem “tutup-buka” kayak warung mie rebus. Ditegur, tutup sebentar. Sepi, buka lagi. Sebuah strategi bisnis yang sayangnya salah pasar dan salah hukum.
Kepala Satpol PP pun turut bersuara. Katanya ini soal penegakan Perda dan menjaga ketertiban. Betul. Tapi masyarakat tentu berharap, jangan hanya tegas saat ada sorotan. Tapi bertindak tegas-setegas tegasnya agar ada efek jera kepada pelaku. Kalau perlu kenakan sanksi adat.
Yang lebih penting dari penggerebekan adalah “pencegahan”. Karena kalau kafe semacam ini bisa buka berkali-kali, pertanyaannya bukan hanya pada pelaku, tapi juga pada sistem pengawasan. Apakah terlalu sibuk? Atau jangan-jangan petugasnya sedang antre cappuccino?
Kita boleh tertawa. Tapi jangan lupa, yang dipertaruhkan adalah moral publik, ketertiban masyarakat, dan kepercayaan terhadap penegakan hukum. Semoga ke depan, kita tidak perlu lagi mendengar kabar kafe serupa-yang menyajikan lebih dari sekadar kopi dan bising speaker karaoke.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews | ini ditulis dalam gaya jenaka sebagai bentuk kritik sosial yang membangun. Setiap sindiran ditujukan untuk menggugah kesadaran publik dan mendorong perbaikan tata kelola masyarakat. Tidak ada maksud untuk mencemarkan nama baik pihak mana pun. Redaksi berkomitmen pada prinsip keberimbangan, kebenaran faktual, dan kode etik jurnalistik sebagaimana diatur dalam UU Pers.
Redaksi | Insetgalusnews | Kadang masalah besar dimulai dari secangkir kopi yang disajikan terlalu bebas


































