Kuda Pacu Tradisional, Dari Komunal Kampung Ke Kantor

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 28 Oktober 2025 - 18:28 WIB

50804 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ini hanya sebagai ilustrasi |doc|inset|

Gambar ini hanya sebagai ilustrasi |doc|inset|

Kini suasananya mulai bergeser. Nama kampung perlahan tersisih, digantikan label yang lebih “berkelas” Kuda Pak Kadis, Kuda Pak Kabid, atau Kuda Ketua Anu. Sorak-sorai rakyat? Masih terdengar, tentu saja, tapi kini lebih mirip aplaus resmi dari kursi VIP, bukan luapan semangat warga yang dulu bertaruh gengsi kampung. Bahkan, sebelum berteriak “hebat!”, mereka harus memastikan kuda siapa yang sedang berlari, biar tidak salah tepuk tangan.

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Dulu, pacuan kuda di Gayo Lues bukan sekadar adu cepat, tapi juga adu gengsi antar kampung. Teriakan “kude aman Polan dari Kampung Polin!” bukan hanya memompa adrenalin, tapi juga menaikkan harga diri warga kampung hingga dua minggu ke depan. Bonusnya, bisa jadi bahan cerita di warung kopi sampai musim panen tiba.

Kini, suasananya mulai bergeser. Nama kampung perlahan tersisih, digantikan label baru yang lebih ‘glamor’ Kuda Pak Kadis, Kuda Pak Kabid, atau Kuda Ketua Anu. Sorak sorai rakyat? Masih ada, tapi kini lebih mirip penonton eksklusif yang hanya diizinkan bersorak setelah memastikan siapa pemilik kuda yang sedang berlari.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perubahan ini bukan hanya soal branding kuda yang naik kasta dari “kelas kampung” jadi “kelas pejabat”, tapi juga mencerminkan geserannya arah tradisi, dari arena rakyat menjadi area kapital. Ketika kuda tidak lagi mewakili kampung, tapi mewakili individu pejabat, kita patut bertanya? apakah ini pacuan atau pameran pajak kendaraan bermerek mamalia?

Pacuan kuda yang dahulu sarat gotong royong kini terancam menjadi ajang gengsi ekonomi. Tradisi yang dulunya mempersatukan warga, kini berisiko menciptakan tribun VIP secara sosial, di mana masyarakat hanya jadi figuran yang ikut bersorak tanpa punya jagoan sendiri.

Sebagai media yang tunduk pada Kode Etik Jurnalistik, kami tidak sedang menertawakan tradisi ini, kami hanya sedang tersenyum getir sambil mengetuk hati semua pihak agar sadar, “ketika nilai komunal mati pelan-pelan, yang berlari kencang bukan hanya kuda, tapi juga jarak antara rakyat dan elitnya”.

Untuk itu, pacuan kuda perlu ditarik kembali ke lintasan yang semestinya,

✅ Kembalikan representasi kampung, agar semua warga merasa memiliki kuda meski hanya lewat urunan jerami.

✅ Berikan ruang bagi pemilik kecil, karena sejarah tradisi tidak pernah ditulis hanya oleh mereka yang berkantong tebal.

✅ Jaga sportivitas dan cegah politisasi, sebab pacuan kuda bukan panggung kampanye terselubung atau ajang gengsi jabatan.

Pacuan kuda adalah warisan budaya. Jika ia berubah menjadi sekadar arena prestise pejabat, maka yang kalah bukan hanya kuda yang tersisih di semifinal, tapi juga identitas kolektif masyarakat Gayo Lues.

Kami percaya, jika pemerintah daerah dan masyarakat bergandeng tangan, teriakan klasik “kude aman Polan dari kampung polin” akan kembali menggema, kali ini bukan karena kepemilikan pribadi, tapi karena kebanggaan komunal yang tak terganti.

Kalau dari sekarang tidak diluruskan, jangan salahkan kalau nanti kuda baru ikut pacu dengan nama “SPJ Belum Turun” dan saudaranya, “Anggaran Sedang Diproses.”


Tajuk | insetgalusnews| ini tidak bermaksud menyinggung siapa pun terutama yang merasa punya kuda, pejabat, atau pejabat yang punya kuda. Jika ada kesamaan nama, jabatan, atau jenis pelana, itu murni kebetulan yang berlari lebih cepat dari niat kami. Redaksi hanya berharap, setelah membaca tajuk ini, tidak ada kuda yang tersinggung, tidak ada pejabat yang tiba-tiba minta kuda cuti, dan tidak ada rakyat yang harus membeli rumput bersubsidi demi ikut balapan.

Kami percaya, di Gayo Lues, kuda tetaplah kuda, bukan simbol kekuasaan, apalagi kendaraan politik. Dan bila suatu saat muncul lomba pacuan hati nurani, kami siap jadi penonton paling depan.

Redaksi | insetgalusnews |

Berita Terkait

ANEKDOT Tiga Sekawan Dan Mukjizat Tanaman Kopi
Dia Tu Lagi Lucu Lucunya…. Jaman Dulu; Kerja-Baru Prestasi-Jaman Digital; Penghargaan Dulu-Kerja Nanti
Negeri dalam Mode “Siap, Pak!” Kalau Semua Bilang “Siap”, Siapa yang Bilang Salah?
Kopi Sudah Mau Go International, GERETEK Masih Cari Sinyal
Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 12:37 WIB

Lagi, Polisi Amankan Dua Pria dan Sita 1,65 Gram Sabu di Kampung Jawa

Senin, 14 September 2026 - 14:30 WIB

Sungai Tripe Meluap, Dua Akses Penghubung Kecamatan di Gayo Lues Tak Bisa Dilintasi

Minggu, 13 September 2026 - 16:38 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria, Sabu 1,28 Gram Disita

Rabu, 9 September 2026 - 11:10 WIB

Delapan Titik Longsor Puteri Betung Lumpuhkan Jalan Kutacane-Blangkejeren

Rabu, 9 September 2026 - 08:30 WIB

Kebakaran Dini Hari di Kutepanyang, 17 Rusak Berat, 3 Rusak Ringan

Jumat, 4 September 2026 - 20:12 WIB

Komisi I Apresiasi Polres Ungkap Peredaran Sabu. Ia Dorong Polisi Kejar Pemasok

Jumat, 4 September 2026 - 17:54 WIB

Polisi Tangkap Pria di Gele, Sabu 0,64 Gram Jadi Barang Bukti

Rabu, 2 September 2026 - 10:50 WIB

Aceh Masuk Kategori Siaga BMKG, Hujan Lebat dan Angin Kencang Mengintai

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan