Ibarat klub bola yang punya basis pendukung fanatik, pacuan kuda di masa lalu juga punya “ultras”nya sendiri. Bedanya, mereka tak membawa flare atau drum besar, melainkan teriakan lantang dari pinggir lintasan dan semangat kampung yang tak kalah panas. Dulu, nama-nama seperti Kude Kekuyang dari Kampung Peparik atau Kude Apollo dari kampung Bacang disebut dengan nada bangga, seperti fans bola menyebut Messi atau Ronaldo. Kuda-kuda itu menjadi legenda lintasan, membawa harum nama kampung hingga ke pelosok, dan kalau menang, satu kampung bisa pesta tanpa perlu izin semrawut.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Pacuan kuda tradisional pernah menjadi pesta rakyat yang paling ditunggu. Pada dekade 1970-2000an, setiap kali lomba digelar, suasananya menyerupai pertandingan sepak bola besar. Setiap kampung datang membawa semangat, spanduk, dan dukungan layaknya suporter klub kebanggaan mereka.
Ibarat klub bola yang memiliki basis pendukung fanatik, pacuan kuda di masa itu juga melahirkan rasa keterikatan yang kuat antara kampung dan kuda yang mewakilinya. Nama-nama seperti Kude Kekuyang dari Kampung Peparik atau Kude Apollo dari kampung Bacang menjadi legenda yang dikenang hingga kini. Kemenangan mereka bukan hanya kebanggaan pemilik, melainkan juga kebanggaan seluruh kampung. Sorak sorai penonton menggema di sepanjang arena, menciptakan suasana gegap gempita yang sulit dilupakan.
Namun kini, semarak itu tidak lagi seperti dulu. Pacuan kuda memang masih berlangsung, tetapi atmosfernya mulai berubah. Perlombaan yang kini dibagi berdasarkan ukuran dan kelas membuat ajang ini semakin profesional, tetapi sekaligus semakin mahal. Harga seekor kuda pacuan yang bisa mencapai ratusan juta rupiah telah memisahkan tradisi ini dari akar rakyatnya.
Masyarakat kecil, yang dulu menjadi penggerak utama dan penjaga tradisi, kini hanya bisa menonton dari pinggir lintasan. Mereka yang dulu berpartisipasi kini kehilangan ruang, karena dunia pacuan kuda telah bergeser menjadi arena eksklusif bagi kalangan tertentu.
Padahal, kekuatan sejati pacuan kuda tradisional terletak pada keterlibatan masyarakat dan kebanggaan kampung. Tanpa itu, pacuan kuda hanyalah lomba tanpa jiwa.
Pemerintah daerah dan penyelenggara perlu menghidupkan kembali semangat kebersamaan itu. Dengan memberdayakan lagi keberadaan kuda lokal, memberi dukungan bagi peserta kampung, dan menjaga nuansa tradisional, pacuan kuda bisa kembali menjadi pesta rakyat yang sesungguhnya.
Pacuan kuda adalah warisan budaya yang harus dijaga bukan hanya karena nilainya sebagai olahraga, tetapi karena di dalamnya hidup identitas, kebersamaan, dan kebanggaan rakyat. Jangan biarkan semarak itu padam, sudah selayaknya kita kembalikan pacuan kuda ke pangkuan rakyat, seperti masa ketika Kude Kekuyang dan Apollo berlari membawa harum nama kampungnya.
Tradisi yang dulu milik rakyat kini seperti konser musik yang tiketnya hanya bisa dibeli lewat aplikasi premium. Yang tersisa hanyalah kenangan, dan foto hitam putih ketika anak-anak kampung ikut berlari sambil berteriak, “ayo Kude Kekuyang! ayo Kude Apollo!”.
Padahal, kekuatan sejati pacuan kuda bukan pada kecepatannya, tapi pada kebersamaannya. Ia bukan lomba mencari siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling kompak.
Maka, sebelum kuda-kuda itu benar-benar pindah ke kandang eksklusif dan rakyat cuma jadi penonton tetap, sudah saatnya pemerintah daerah turun tangan. Bukan untuk memberi kuda suplemen impor, tapi untuk memberi semangat lokal. Buka kelas kampung, bantu perawatan kuda rakyat, dan jadikan lagi arena pacuan sebagai tempat tertawa, bersorak, dan bangga bersama.
Sebab pacuan kuda tanpa rakyat ibarat sate tanpa bumbu kacang – tetap ada dagingnya, tapi hambar di lidah.
Catatan Redaksi: Usai masa kejayaan Kude Kekuyang dan Kude Apollo yang sempat mendominasi lintasan pacu, panggung kembali bergairah dengan lahirnya kuda kuda kebanggaan baru “Kude Pantan, Kude Unik, kude Penaram dan Kude Langsat” yang menjadi simbol kebangkitan tradisi pacuan di era berikutnya.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews | ini bukan laporan pacuan sungguhan, melainkan pacuan ide di kepala redaksi. Jika ada pihak yang merasa tersenggol, mohon jangan laporkan kudanya, laporkan saja semangatnya yang mulai melambat. Semua tajuk disampaikan tanpa cambuk, bukan dengan nada marah, melainkan dengan senyum. Kami tidak sedang bertaruh kuda, hanya bertaruh harapan agar semangat rakyat kembali berlari. Dan bila ada yang merasa tertinggal, silakan naik pelana humor terlebih dahulu sebelum tersinggung. “Sebab satir terbaik bukan yang membuat orang marah, tetapi yang membuat orang berpikir sambil tersenyum”.


































