Di Jakarta, Presiden bisa memilih ribuan panggung megah untuk tampil gagah. Tapi kenapa tiba-tiba menoleh ke Gayo Lues, sebuah kabupaten yang jalannya lebih sering berlubang daripada janji politik? Mungkin karena di sini ada kopi yang lebih jujur dari politisi, hutan yang lebih setia daripada pejabat, dan rakyat yang masih percaya kalau negara benar-benar hadir, bukan sekadar mampir untuk foto.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Setiap kali nama Gayo Lues disebut di panggung nasional, ada getar yang berbeda. Kabupaten kecil di ujung Tanah Gayo ini bukan sekadar titik di peta Aceh, melainkan sebuah “mosaik” hutan tropis terakhir, kopi dengan cita rasa dunia, tari Saman yang mendunia, dan rakyat sederhana yang masih menanti jalan mulus serta fasilitas pendidikan setara kota.
Mungkin itulah sebabnya RI 1 “dengan segala agenda kenegaraan yang padat” menaruh perhatian pada Gayo Lues. Di sini, Presiden tidak hanya melihat barisan pepohonan raksasa di Leuser, tetapi juga potret bagaimana negara diuji! apakah pembangunan hanya berhenti di kota besar, ataukah menembus pegunungan dan lembah yang berliku menuju Blangkejeren.
Gayo Lues punya daya tarik tersendiri. Tari Saman telah mematri nama daerah ini di forum UNESCO. Kopi Gayo menjadi bahasa diplomasi di meja perundingan internasional. Dan Leuser adalah “paru-paru dunia” yang membuat setiap pemimpin harus berpikir dua kali sebelum mengorbankannya.
Namun, di balik sorotan itu, Gayo Lues juga menyimpan paradoks! Sebagai daerah termiskin dengan angka kemiskinan yang mencolok, infrastruktur jalan tak jarang menyerah pada longsor, dan anak-anak sekolah masih merindukan fasilitas yang layak. Barangkali inilah alasan terbesar RI 1 patut hadir “bukan sekadar meninjau program GDAD”, tetapi memastikan keadilan pembangunan tidak berhenti di pinggir kota.
Presiden tentu paham, kunjungan ke Gayo Lues bukan hanya simbol. Ia adalah pesan politik! negara hadir di pelosok. Pesan ekologis! hutan ini warisan dunia. Pesan budaya! Saman adalah kebanggaan bersama. Dan pesan ekonomi! kopi rakyat tidak boleh terus dipermainkan harga pasar.
Tajuk ini ingin mengingatkan, kehadiran RI 1 di Gayo Lues seharusnya bukan sebatas agenda seremonial, melainkan momentum. Momentum untuk menegaskan bahwa republik ini tidak boleh meninggalkan “miniatur Indonesia” yang bernama Gayo Lues.
Kalau hutan adalah nafas dunia, maka rakyat di kaki Leuser adalah denyutnya. Dan tanpa denyut itu, Indonesia takkan pernah lengkap.
Catatan Redaksi | Ini cuma tajuk, bukan titah istana. Kalau terasa pedas, anggap saja sambal teman kopi Gayo.” Tajuk ini ditulis bukan untuk menyusun protokol kunjungan kenegaraan, apalagi meramal agenda Presiden. Isinya lebih mirip kopi Gayo, ada pahit ada harum, kadang bikin melek, kadang bikin gelisah.


































