Dibalik meriahnya karnaval HUT ke-80 RI di Blangkejeren, ada orang tua yang terpaksa menyewa kostum Rp120 – 250 ribu demi anak ikut pawai. Memang kostum tidak diwajibkan dan tidak ditentukan temanya. Tapi mari jujur, adakah anak yang sanggup menahan rasa canggung ketika semua temannya mengenakan kostum, sementara ia berdiri sendiri tanpa kostum?. Tahun depan, kalau ekonomi masih sulit, mari rayakan dengan tema kreatif yang tak bikin kantong bolong
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Sabtu (16/8) ini, jalanan Blangkejeren berubah jadi catwalk raksasa. Ribuan pelajar, dari SD hingga SLTA, melangkah percaya diri menyambut HUT ke-80 RI. Kostum adat, baju pahlawan, bahkan sayap kupu-kupu ikut terbang di udara yang panas-panas patriotik.
Namun, mari kita geser kamera ke balik panggung. Di sana ada orang tua yang sedang berhitung dalam hati “Kalau satu kostum Rp200 ribu, anak saya empat? jumlahnya sekian…ya sudahlah, ini demi kemerdekaan.” Dompet pun ikut longmarch-bedanya, langkahnya menuju kosong.
Sadar atau tidak, anak-anak biasanya terdorong untuk ikut serta, apalagi jika teman-temannya juga berpartisipasi. Meski tema dan jenis kostum tidak ditentukan, tentu sulit bagi seorang anak untuk merasa nyaman bila ia berbeda sendiri, ketika yang lain tampil dengan kostum, sementara ia tidak.
Sementara di banyak desa, orang tua bahkan tak memiliki kostum kostum itu, sehingga mau tak mau harus menyewa demi memenuhi permintaan sang buah hati.
Di tengah daya beli masyarakat yang sedang sakit gigi “eh maksudnya lemah, beras saja harus ditambal dengan beras SPHP”, biaya sewa kostum Rp120 – 250 ribu ditambah riasan terasa seperti ikut lomba tarik tambang.
Di satu ujung ada semangat nasionalisme, di ujung lain ada dompet orang tua yang megap-megap. Ibaratnya, kegiatan ini memang tidak diwajibkan, tapi seperti harus dijalankan.
Kita tentu tak anti perayaan. Karnaval itu bagus untuk menanamkan cinta tanah air. Tapi mungkin, tahun depan, benih itu bisa kita tanam di tanah yang tak terlalu berbatu, kostum kreatif dari bahan bekas, pinjam-pakai antar sekolah, atau lomba menghias seragam sendiri. Dan kalau tahun depan ekonomi masih sulit, ayo kita selenggarakan dengan tema yang lebih kreatif yang bisa dinikmati semua tanpa harus memeras isi dompet.
Sebab jika merdeka harus dimulai dari kantong bolong, itu bukan merdeka, itu namanya “nyicil semangat”.
Indonesia sudah 80 tahun merdeka. Mari pastikan kegembiraan itu bisa dirayakan semua orang, dari mereka yang mampu menyewa sayap malaikat, hingga yang cukup punya kaos putih dan senyum lebar. Karena kemerdekaan sejati adalah ketika anak-anak bisa ikut pawai, dan orang tuanya masih bisa beli beras sepulangnya.
TAJUK | insetgalusnews | “Merdeka di Atas Sepatu Hak Tinggi dan Tagihan Sewa Baju” adalah pandangan redaksi bergaya satir. Humor digunakan sebagai kritik sosial demi meningkatkan kesadaran publik, bukan sebagai berita faktual murni. Setiap penyebutan biaya, tokoh, atau peristiwa bersifat umum dan tidak ditujukan menyerang pihak tertentu.


































