Musyawarah Asap Di Negeri Absurd

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 22 Juli 2025 - 15:53 WIB

50543 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karikatur hanya sekedar pemanis dari satire ini | doc | inset |

Karikatur hanya sekedar pemanis dari satire ini | doc | inset |

Kaur dan kasi berpakaian rapi, bukan hanya tulis-menulis administrasi, mereka meramu mimpi setinggi langit, lalu dibungkus proposal seolah misi luar angkasa-cukup spektakuler untuk Comic-Con, terlalu mewah untuk balai desa.

Wisata angin sepoi-sepoi, panen hujan di musim kemarau, semua ditulis dengan gaya yang bisa bikin Elon Musk termenung di Mars.

Ada juga kaur impor-diboyong dari negeri sebelah, katanya sih dekat dengan pusat kekuasaan. Menteri? Mungkin. Mungkin juga hanya hologram ambisi. Warga pun diam, takut diajak rapat lintas dimensi”

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT


TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Di sebuah negeri yang tak tercantum di Google Maps-bukan karena sinyal hilang, tapi karena realitasnya terlalu absurd untuk dipetakan-keajaiban sudah menjadi menu harian.

Di sini, para kaur dan kasi desa bukan hanya mahir menyusun administrasi, tapi juga lihai meramu mimpi jadi program, lalu mengemasnya dalam proposal bak proyek antariksa.

Demi mencuri perhatian kepala kampung, mereka berlomba menyusun program-program spektakuler yang lebih cocok dipamerkan di Comic-Con ketimbang dimusyawarahkan di balai desa.

Dari rencana wisata angin sepoi-sepoi, hingga teknologi panen hujan di musim kemarau-semuanya ditulis dengan gaya yang bisa bikin Elon Musk menghela napas panjang.

Tak ketinggalan, ada juga kaur impor dari luar daerah. Didatangkan langsung oleh kepala kampung karena konon dia punya “akses langsung ke orang pusat”. Si kaur ini mengaku dekat dengan pejabat setingkat menteri-meski belum jelas, menteri betulan atau sekadar hasil ilusi optik. Hingga kini, belum ada warga yang berani bertanya langsung. Takut nanti diajak ikut rapat koordinasi lintas dimensi.

Sementara itu, kasi desa hasil pilkakampung terbaru tampil penuh percaya diri. Dalam rapat membahas krisis air minum, ia berdiri dengan dada membusung dan suara bergetar antara semangat dan halusinasi. Dengan mantap ia janji akan melobi sampai ke luar negeri-ke Jerman! Demi program air bersih, padahal peta lokasinya saja masih dirahasiakan semesta.

Desas-desus menyebut ia sebenarnya agen diplomatik yang menyamar jadi petugas absensi desa.

Rapat demi rapat digelar, bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan sebagai ajang orasi dan parade retorika tingkat tinggi. Cakap-cakap kosong menggema seperti doa pengusir logika. Kepala kampung hanya mengangguk-angguk, bukan karena mengerti, tapi karena bingung, mana ide yang paling tidak masuk akal?

Yang benar-benar berubah? Cuma satu-anggaran. Itu pun bukan bertambah, tapi menyusut seperti kain basah dijemur mendung. Bahkan untuk menggaji teuha peut saja harus menunggu ilham turun dari langit. Tapi mereka tetap membangun narasi optimis “Sebentar lagi dana akan mengucur. Akan kita lobi ke pusat!” Persis seperti ramalan cuaca palsu di musim kemarau-panas terus, hujan tak kunjung tiba.

Kini kepala kampung hanya bisa duduk termenung di kursinya, dikepung janji-janji yang makin hari makin menyerupai naskah drama. Dalam hati ia bertanya, “Apakah ini benar-benar kampungku, atau aku sedang tersesat di negeri dongeng tanpa GPS?”

Ah, kaur dan kasi desa, jangan kira kepala kampung ini tak mengerti. Ia hanya sedang berusaha menjaga agar kalian tak tersakiti, dan agar kampung ini tak makin terlempar ke galaksi absurd.

Catatan Redaksi: Segala kesamaan nama, jabatan, atau program absurd dalam tulisan ini hanyalah kebetulan yang terlalu kebetulan. Kalau merasa tersindir, mungkin semesta sedang memberi kode. Tajuk ini bukan untuk menyinggung, melainkan untuk menyegarkan logika yang mulai dehidrasi. Bacalah dengan secangkir Kopi.

Berita Terkait

ANEKDOT Tiga Sekawan Dan Mukjizat Tanaman Kopi
Dia Tu Lagi Lucu Lucunya…. Jaman Dulu; Kerja-Baru Prestasi-Jaman Digital; Penghargaan Dulu-Kerja Nanti
Negeri dalam Mode “Siap, Pak!” Kalau Semua Bilang “Siap”, Siapa yang Bilang Salah?
Kopi Sudah Mau Go International, GERETEK Masih Cari Sinyal
Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 12:37 WIB

Lagi, Polisi Amankan Dua Pria dan Sita 1,65 Gram Sabu di Kampung Jawa

Senin, 14 September 2026 - 14:30 WIB

Sungai Tripe Meluap, Dua Akses Penghubung Kecamatan di Gayo Lues Tak Bisa Dilintasi

Minggu, 13 September 2026 - 16:38 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria, Sabu 1,28 Gram Disita

Rabu, 9 September 2026 - 11:10 WIB

Delapan Titik Longsor Puteri Betung Lumpuhkan Jalan Kutacane-Blangkejeren

Rabu, 9 September 2026 - 08:30 WIB

Kebakaran Dini Hari di Kutepanyang, 17 Rusak Berat, 3 Rusak Ringan

Jumat, 4 September 2026 - 20:12 WIB

Komisi I Apresiasi Polres Ungkap Peredaran Sabu. Ia Dorong Polisi Kejar Pemasok

Jumat, 4 September 2026 - 17:54 WIB

Polisi Tangkap Pria di Gele, Sabu 0,64 Gram Jadi Barang Bukti

Rabu, 2 September 2026 - 10:50 WIB

Aceh Masuk Kategori Siaga BMKG, Hujan Lebat dan Angin Kencang Mengintai

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan