Pacuan Kuda, Warisan Leluhur dan Semangat Kemerdekaan

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Senin, 13 Oktober 2025 - 21:48 WIB

50527 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konon, orang Gayo zaman dulu tidak butuh healing trip ke laut atau kafe estetik untuk melepas penat. Begitu padi masuk lumbung, yang dicari bukan kopi susu dingin, tapi kuda yang laju dan penonton yang riuh. Saat itu, pacuan kuda adalah pesta rakyat sebagai tempat ajang bersyukur, bergembira, dan kadang… mencari jodoh sekilas pandang di pinggir arena

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Dulu, setiap usai panen padi “yang hanya setahun sekali” masyarakat Gayo menggelar pacuan kuda di tanah lapang. Tak ada tribun megah, tak ada pengeras suara, tapi ada semangat, tawa, dan kebersamaan yang mengalir di antara derap kuda dan debu yang beterbangan. Pacuan kuda kala itu adalah cara orang Gayo bersyukur atas hasil bumi dan menegaskan “kami bisa bahagia tanpa listrik dan livestream.”

Kini, tradisi itu terus berdenyut di Buntul Nege. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, lewat agenda memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, kembali menggelar pacuan kuda tradisional. Langkah ini bukan sekadar pelestarian budaya, tapi juga pengingat bahwa modernitas tak harus menghapus akar tradisi.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pacuan kuda adalah napas warisan leluhur. Lambang sportivitas, persaudaraan, dan kebersamaan yang lahir dari tanah pegunungan Gayo. Namun, seperti padi yang tumbuh subur karena dirawat, tradisi juga harus dijaga agar tak mati ditelan zaman. Mengelola pacuan kuda sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata rakyat akan memberi manfaat ganda. Budaya tetap hidup, ekonomi pun ikut berputar.

Derap langkah kuda di Buntul Nege bukan hanya pertunjukan hiburan. Ia adalah gema masa lalu yang terus berlari menuju masa depan, membawa pesan sederhana “kemajuan sejati adalah ketika tradisi dan modernitas bisa berpacu seirama”.


Tajuk Rencana | insetgalusnews | ini mengandung kadar nostalgia dan kelakar ringan yang aman untuk kesehatan jiwa. Jika setelah membaca Anda tiba-tiba ingin menunggang kuda atau membuka warung kopi di pinggir lapangan pacu, itu bukan tanggung jawab redaksi. Tapi kalau ikut tersenyum, berarti semangat Gayo masih hidup di dada Anda.

Redaksi | insetgalusnews.com

Berita Terkait

ANEKDOT Tiga Sekawan Dan Mukjizat Tanaman Kopi
Dia Tu Lagi Lucu Lucunya…. Jaman Dulu; Kerja-Baru Prestasi-Jaman Digital; Penghargaan Dulu-Kerja Nanti
Negeri dalam Mode “Siap, Pak!” Kalau Semua Bilang “Siap”, Siapa yang Bilang Salah?
Kopi Sudah Mau Go International, GERETEK Masih Cari Sinyal
Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 12:37 WIB

Lagi, Polisi Amankan Dua Pria dan Sita 1,65 Gram Sabu di Kampung Jawa

Senin, 14 September 2026 - 14:30 WIB

Sungai Tripe Meluap, Dua Akses Penghubung Kecamatan di Gayo Lues Tak Bisa Dilintasi

Minggu, 13 September 2026 - 16:38 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria, Sabu 1,28 Gram Disita

Rabu, 9 September 2026 - 11:10 WIB

Delapan Titik Longsor Puteri Betung Lumpuhkan Jalan Kutacane-Blangkejeren

Rabu, 9 September 2026 - 08:30 WIB

Kebakaran Dini Hari di Kutepanyang, 17 Rusak Berat, 3 Rusak Ringan

Jumat, 4 September 2026 - 20:12 WIB

Komisi I Apresiasi Polres Ungkap Peredaran Sabu. Ia Dorong Polisi Kejar Pemasok

Jumat, 4 September 2026 - 17:54 WIB

Polisi Tangkap Pria di Gele, Sabu 0,64 Gram Jadi Barang Bukti

Rabu, 2 September 2026 - 10:50 WIB

Aceh Masuk Kategori Siaga BMKG, Hujan Lebat dan Angin Kencang Mengintai

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan