Konon, orang Gayo zaman dulu tidak butuh healing trip ke laut atau kafe estetik untuk melepas penat. Begitu padi masuk lumbung, yang dicari bukan kopi susu dingin, tapi kuda yang laju dan penonton yang riuh. Saat itu, pacuan kuda adalah pesta rakyat sebagai tempat ajang bersyukur, bergembira, dan kadang… mencari jodoh sekilas pandang di pinggir arena
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Dulu, setiap usai panen padi “yang hanya setahun sekali” masyarakat Gayo menggelar pacuan kuda di tanah lapang. Tak ada tribun megah, tak ada pengeras suara, tapi ada semangat, tawa, dan kebersamaan yang mengalir di antara derap kuda dan debu yang beterbangan. Pacuan kuda kala itu adalah cara orang Gayo bersyukur atas hasil bumi dan menegaskan “kami bisa bahagia tanpa listrik dan livestream.”
Kini, tradisi itu terus berdenyut di Buntul Nege. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, lewat agenda memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, kembali menggelar pacuan kuda tradisional. Langkah ini bukan sekadar pelestarian budaya, tapi juga pengingat bahwa modernitas tak harus menghapus akar tradisi.
Pacuan kuda adalah napas warisan leluhur. Lambang sportivitas, persaudaraan, dan kebersamaan yang lahir dari tanah pegunungan Gayo. Namun, seperti padi yang tumbuh subur karena dirawat, tradisi juga harus dijaga agar tak mati ditelan zaman. Mengelola pacuan kuda sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata rakyat akan memberi manfaat ganda. Budaya tetap hidup, ekonomi pun ikut berputar.
Derap langkah kuda di Buntul Nege bukan hanya pertunjukan hiburan. Ia adalah gema masa lalu yang terus berlari menuju masa depan, membawa pesan sederhana “kemajuan sejati adalah ketika tradisi dan modernitas bisa berpacu seirama”.
Tajuk Rencana | insetgalusnews | ini mengandung kadar nostalgia dan kelakar ringan yang aman untuk kesehatan jiwa. Jika setelah membaca Anda tiba-tiba ingin menunggang kuda atau membuka warung kopi di pinggir lapangan pacu, itu bukan tanggung jawab redaksi. Tapi kalau ikut tersenyum, berarti semangat Gayo masih hidup di dada Anda.
Redaksi | insetgalusnews.com


































