TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Kabupaten Pati mendadak jadi trending, bukan karena festival kuliner, tapi karena ribuan warganya turun ke jalan. Euforia massa bak konser besar, hanya saja yang mereka nyanyikan bukan lagu cinta, melainkan nyanyian “turunkan bupati.”
Sementara itu, di Jakarta, wakil rakyat kita tampak seperti HP jadul “masuk mode silent”. Tidak ada bunyi, tidak ada getar. Hanya gelisah menatap layar, khawatir bila demo di Pati menjadi template gratisan yang bisa diunduh bebas oleh rakyat, alias khawatir muncul Pati Pati yang lain.
Sejatinya, rakyat hanya meminta satu hal sederhana, “pemimpin yang amanah”. Tapi begitu janji kampanye berubah jadi janji cicilan, maka jangan heran bila rakyat mencari tombol uninstall.
Lucunya, sebagian pejabat selalu panik bila rakyat bersatu. Padahal rakyat tidak pernah panik meski harga naik, makan beras SPHP, listrik byar-pet, atau jalan berlubang seperti wajah dicubit. Rakyat tetap sabar, sampai akhirnya kesabaran itu meledak jadi orasi.
Pertanyaan nakal pun muncul, apakah Pati akan menjadi beta test revolusi rakyat melawan pejabat dzalim? Ataukah cuma “trial version” yang segera expired tanpa hasil?
Yang jelas, rakyat hari ini sudah menemukan loudspeaker mereka, “turun ke jalan, suara lantang, dan sulit di-mute”.
Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah tajuk bergaya satir. Segala perumpamaan dan humor yang digunakan dimaksudkan sebagai kritik sosial dan refleksi demokrasi, bukan ajakan turun ke jalan atau tuduhan personal. Redaksi menegaskan satire ini berada dalam koridor Kode Etik Jurnalistik dan kebebasan berpendapat.


































