Pemerintah bukanlah ruang suci tanpa cela. Justru karena dijalankan oleh manusia biasa, kritik menjadi vitamin agar kebijakan tidak salah arah dan demokrasi tetap bernapas
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Kekuasaan itu seperti tubuh manusia butuh gizi, butuh vitamin. Sayangnya, ada sebagian pejabat yang alergi pada vitamin bernama kritik. Begitu ditelan, langsung panas dingin, keluar keringat dingin, lalu buru-buru cari “dokter pembelaan”.
Padahal, tanpa kritik, pemerintah seperti cermin tanpa kaca. Yang terlihat hanya bayangan yang mereka mau, bukan wajah sebenarnya. Apa gunanya berkuasa kalau hanya mau mendengar tepuk tangan? Pemimpin tanpa kritik ibarat sopir bus malam yang hanya percaya pada lampu hazard, jalan lurus saja, meski jurang sudah menunggu di depan.
Kritik bukan musuh. Ia hanyalah suara rakyat yang khawatir, mahasiswa yang gelisah, jurnalis yang cerewet, atau petani yang kecewa. Semua itu adalah tanda cinta. Sebab, kalau rakyat sudah malas mengkritik, tandanya mereka sudah lelah berharap.
Pemerintah yang anti kritik sebenarnya sedang membuat dirinya rapuh. Layaknya rumah kaca di tengah badai, tinggal tunggu waktu retak. Sebaliknya, pemerintah yang mau mendengar kritik justru sedang memperkokoh pondasi.
Maka, jangan buru-buru menuding pengkritik sebagai pengganggu. Anggap saja mereka alarm jam weker yang selalu berisik tiap pagi. Memang menyebalkan, tapi kalau dimatikan, bisa-bisa kita semua kesiangan – dan negara keburu kebobolan.
Tajuk Rencana | insetgalusnews | ini tidak dimaksudkan untuk membuat pejabat masuk angin. Kritik hanyalah vitamin, bukan racun. Kalau terasa pahit, mungkin karena obatnya manjur.


































