Elite boleh berdebat di kursi empuk, tapi rakyat punya cara lain; solidaritas rimpang. Ia tidak butuh gedung megah atau panggung istana, cukup dari warung kopi, sawah, dan lorong-lorong desa, ia tumbuh, menyebar, dan menggedor dinding kekuasaan yang pongah
TAJUK RENCANA | Insetgalusnews.com | Di tengah krisis kepercayaan terhadap elite, rakyat sering dipaksa bertanya, dari mana kekuatan sejati itu tumbuh? Jawabannya mungkin sederhana, tetapi kuat; dari bawah, dari akar yang saling terhubung, dari rimpang.
Seperti batang bawah tanah yang menyimpan cadangan makanan dan memunculkan tunas baru, solidaritas rakyat bekerja dengan cara yang sama. Ia tidak bertumpu pada satu figur, tidak bergantung pada satu panggung, melainkan menyebar ke segala arah. Satu ruas ditekan, ruas lain akan bangkit. Satu suara dibungkam, seribu suara lain akan menyahut.
“Solidaritas rimpang” adalah bentuk perlawanan yang tak terpusat, tetapi justru kuat karena jaringannya. Ia hidup di ruang-ruang kecil; di warung kopi, di sawah, di kampus, di jalanan desa, hingga di media sosial. Dari sanalah percakapan tumbuh, saling menguatkan, hingga melahirkan keberanian bersama.
Mungkin elite di atas beranggapan mereka bisa mengendalikan opini, bisa memotong satu saluran aspirasi. Namun sejarah telah berulang kali menunjukkan; ketika rakyat menyebar seperti rimpang, mereka tak mudah dipatahkan.
Solidaritas rimpang adalah pelajaran bahwa demokrasi sejati lahir dari bawah, dari rakyat yang berakar, menyebar, dan tak mengenal kata menyerah. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Itulah rimpang kekuatan kita. Kekuatan rakyat.
Pada akhirnya, solidaritas rimpang mengingatkan kita bahwa demokrasi tidak tumbuh dari kursi empuk parlemen atau meja rapat penuh kalkulasi, melainkan dari tanah rakyat yang berakar kuat. Dari obrolan sederhana, dari gotong royong yang tulus, hingga dari keberanian melawan ketidakadilan, rimpang itu terus menjalar. Inilah kekuatan sejati bangsa dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sebuah janji yang tak boleh lagi dikhianati.
Catatan Redaksi | Ini bukan bisikan individu, bukan pula teriakan partisan. Ini suara redaksi Insetgalusnews.com, lahir dari akar dan nadi rakyat. Tajuk ini adalah metafora yang dibingkai dalam Kode Etik Jurnalistik dan dilindungi oleh UU Pers, agar demokrasi tetap punya ruang untuk bernapas. Jika ada yang merasa tersindir, mungkin karena rimpang memang menjalar ke mana-mana.


































