Di sebuah masa yang penuh gejolak, Tan Malaka menulis Madilog sebagai lentera bagi bangsa yang masih mencari jalannya. Ia mengajak rakyat untuk berani berpikir dengan nalar, menimbang dengan ilmu, dan tidak tunduk pada mitos semata. Pesan itu, meski lahir dari ruang dan waktu berbeda, masih bergaung hingga ke pelosok negeri.
Gayo Lues hari ini, misalnya, tengah berhadapan dengan dilema besar, menjaga kopi dan hutan sebagai warisan kehidupan, atau tergoda janji singkat dari korporasi yang menekan. Dalam situasi seperti ini, ajakan Tan Malaka untuk kembali pada cara berpikir rasional, kritis, dan berpihak pada kepentingan rakyat menjadi semakin relevan
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Lebih dari tujuh dekade lalu, Tan Malaka menulis Madilog sebuah seruan agar bangsa berani berpikir rasional, tidak sekadar larut dalam tradisi tanpa nalar. Madilog bukan sekadar buku filsafat, melainkan obor yang menantang bangsa untuk berpijak pada logika, ilmu, dan pengalaman hidup.
Bila pandangan itu kita arahkan ke Gayo Lues hari ini, cerminnya masih terasa jernih, kopi rakyat butuh perlindungan, isu tambang terus menghantui, dan nasib petani di Kawasan Ekosistem Leuser belum juga menemukan kepastian.
Tan Malaka, pemikirannya mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari kolonialisme politik, melainkan juga merdeka dalam ekonomi. Pesan ini menohok realitas kita. Sebagian keluarga di Gayo Lues masih bergulat dengan harga kebutuhan pokok yang tinggi, keterbatasan akses pasar, serta ancaman eksploitasi atas sumber daya alam yang belum tentu berbalas kesejahteraan.
Lebih jauh, Tan Malaka menegaskan arti kedaulatan. Pertanyaannya kini? apakah masyarakat Gayo Lues sudah benar-benar berdaulat atas hutan Leuser, atas kopi yang mereka tanam, dan atas sumber air yang menjadi nadi kehidupan? Pertanyaan ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah, melainkan untuk mengajak refleksi apakah arah pembangunan benar-benar sejalan dengan kepentingan rakyat banyak, atau hanya berhenti pada retorika.
Tanggung jawab pemerintah, Legislatif, dan tokoh masyarakat adalah memastikan pembangunan tidak berhenti pada seremoni dan slogan, melainkan menghadirkan manfaat nyata bagi warga. Hanya dengan begitu cita-cita kemerdekaan yang pernah diperjuangkan para pendiri bangsa, termasuk Tan Malaka melalui Madilog, dapat diwujudkan secara berkelanjutan di Gayo Lues.
Tan Malaka dalam Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) mengemukakan cara berpikir yang kritis dan inovatif. Ia menekankan pentingnya pemikiran ilmiah dan logika dialektika sebagai alat utama memahami kenyataan sosial dan dunia. Pandangan inilah yang patut dijadikan bekal generasi kita untuk menata masa depan dengan keberanian dan kesadaran penuh.
Hanya dengan keberanian berpikir jernih dan berpihak pada rakyat, semangat Madilog bisa benar-benar hidup di negeri ini.
Catatan Redaksi: Tajuk rencana ini ditulis untuk memberi pemahaman dengan merujuk pada semangat dan pemikiran Tan Malaka. Pandangan ini bersifat reflektif, tidak ditujukan untuk menyerang pihak tertentu, dan disusun sesuai Kode Etik Jurnalistik.


































