KENYA | insetgalusnews.com | Sedikitnya 16 orang dilaporkan tewas dalam demonstrasi anti-pemerintah di Kenya, Rabu (25/6/2025), sebagian besar akibat tembakan aparat keamanan. Amnesty Kenya menyebut korban tewas telah diverifikasi hingga pukul 20.30 waktu setempat.
“Sebagian besar dibunuh oleh polisi,” kata Direktur Eksekutif Amnesty Kenya, Irungu Houghton, menambahkan bahwa lima di antaranya meninggal karena luka tembak.
Unjuk rasa digelar untuk memperingati satu tahun tragedi berdarah yang terjadi pada 2024, saat lebih dari 60 orang tewas dalam protes terhadap rancangan undang-undang pajak. Tahun ini, ribuan warga kembali turun ke jalan di berbagai kota, termasuk Nairobi, memprotes kebrutalan aparat dan kasus pelanggaran HAM.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya (KNCHR) mencatat delapan korban tewas yang diduga kuat akibat luka tembak, serta lebih dari 400 orang luka-luka, termasuk jurnalis dan aparat. KNCHR menyoroti penggunaan kekuatan berlebihan seperti peluru tajam, peluru karet, dan meriam air.
Sementara pihak kepolisian Kenya bungkam, Otoritas Pengawas Independen Kepolisian (IPOA) mencatat 61 orang ditangkap. Rumah Sakit Nasional Kenyatta melaporkan menerima 107 korban luka, sebagian besar akibat tembakan, meski belum ada kematian di fasilitas tersebut.
Insiden tragis juga terjadi saat seorang petugas keamanan Kenya Power tewas tertembak di Nairobi. Ketegangan meningkat ketika siaran langsung dua stasiun TV nasional, NTV dan KTN, sempat dihentikan otoritas sebelum pengadilan membatalkan perintah tersebut.
Bentrokan juga tercatat di kota-kota seperti Mombasa, Kitengela, Kisii, Matuu, dan Nyeri. Meski Presiden William Ruto telah membatalkan kenaikan pajak yang memicu protes tahun lalu, ketidakpuasan publik belum reda.
Unjuk rasa kali ini turut dipicu kematian Albert Ojwang (31), seorang blogger dan guru, dalam tahanan polisi. Enam orang, termasuk tiga anggota kepolisian, telah didakwa, namun mengaku tidak bersalah. Kematian Ojwang dianggap sebagai simbol kemarahan atas kasus hilangnya warga secara misterius dan dugaan penyiksaan dalam tahanan.
“Sejak 25 Juni, saya turun ke jalan demi memperjuangkan keadilan untuk teman-teman kami dan semua korban,” kata demonstran Lumumba Harmony, dikutip dari Reuters.
Redaksi | insetgalusnews | cnbc


































