Mandeknya Anggaran, Diamnya Legislatif: Siapa Bertanggung Jawab?

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Kamis, 3 Juli 2025 - 23:46 WIB

50934 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

doc | inset | Pasar Centong, Blangkejeren

doc | inset | Pasar Centong, Blangkejeren

“Berdirilah di tengah sunyi Blangkejeren, keraskan kata, tegakkan kepala, karena jika kau menunggu gedung sunyi bersuara mungkin fajar lebih dulu menua. Dan kami-akan menuliskan setiap denyutnya, menjemput kebenaran agar tak lagi tertahan di titik koma anggaran”


Tajuk Rencana | insetgalusnews.com | Blang Kejeren, Gayo Lues. Kota ini biasanya ramai. Warung-warung di sepanjang jalan utama perempatan Rikit Gaib-Kutelintang, perempatan seputar tugu dan pajak terpadu seharusnya sudah penuh pengunjung saat awal bulan. Tapi kali ini sepi. Di Kecamatan Blangkejeren, denyut ekonomi seperti berhenti. Penyebabnya bukan bencana alam, bukan wabah. Tapi aliran anggaran yang tersendat dan birokrasi yang mendadak bisu.

Kegiatan Mandek, Gaji Terlambat

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejumlah kegiatan pembangunan yang direncanakan pada tahun ini belum juga berjalan. Di sisi lain, para tenaga honorer baik yang bekerja di lingkungan Pemkab maupun honorer P3K mengaku belum menerima gaji. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa mereka sudah enam bulan tidak mendapatkan haknya. Kekecewaan pun memuncak. Sebagian dari mereka secara terbuka menyuarakan keluhannya di media sosial, bahkan meminta kepala daerah untuk segera mengambil langkah bijak demi mencairkan honor yang telah lama tertunda.

“Bagaimana bisa diam, gaji anak honor tertahan sudah enam bulan. Apalagi ini sudah memasuki tahun ajaran baru. Tentu saja para tenaga honor, terutama yang sudah berkeluarga, sangat berharap gaji mereka segera cair. Kami mohon, Pak, tolonglah-ini untuk biaya anak-anak kami masuk sekolah,” keluhnya dalam komentar di salah satu unggahan media sosial.

Dampaknya merambat ke mana-mana. Warung kopi sepi. Tukang bangunan menganggur. Pedagang kaki lima melempem, penjual sembako berhenti stok karena tak ada kepastian. Di satu sisi, masyarakat bawah makin terdesak, sementara roda pembangunan yang seharusnya menjadi penggerak utama malah tersangkut di ranah administrasi dan politik.

Harapan dari Tanah, Bukan dari Kantor

Berbeda dengan Blangkejeren yang tergantung penuh pada aliran APBD, beberapa kecamatan seperti Kutepanyang, Putri Betung, dan Blang Jerango tetap bertahan. Mereka hidup dari tanah. Masyarakatnya bertani, menanam palawija, memanen hasil bumi. Di Putri Betung, sektor pertanian palawija masih menggeliat, menjadi contoh kecil bagaimana kemandirian rakyat dapat tumbuh bila tak terlalu tergantung pada sistem yang rapuh.

Namun demikian, tak semua wilayah punya ketahanan yang sama. Sebagian besar masyarakat Gayo Lues tetap bergantung pada belanja pemerintah, gaji, bantuan sosial, dan kegiatan pembangunan. Ketika anggaran tak mengalir, maka hidup mereka pun ikut macet.

Diamnya Legislator

Saat situasi ini semakin parah, publik mulai mempertanyakan di mana peran legislatif? Sebagai lembaga yang memiliki fungsi kontrol terhadap penggunaan dan pelaksanaan anggaran. Legislatif seharusnya bertindak cepat, memanggil pihak eksekutif, meminta kejelasan, bahkan mendorong percepatan pencairan dana publik.

Namun kenyataannya, belum ada satu pun langkah tegas yang diambil. Tidak ada pernyataan publik. Tidak ada jadwal rapat terbuka. Tidak ada tekanan nyata terhadap eksekutif. Beberapa sumber menyebutkan gedung legislatif lebih sering kosong tanpa aktifitas. “Kalau legislatif diam, maka siapa yang mengingatkan eksekutif? ” celetuk seorang warga diwarung kopi perempatan Rikit Gaib, Kamis 3 Juli 2025.

Dugaan Tarik Menarik Kepentingan

Dalam sistem demokrasi, legislatif semestinya berdiri di garda terdepan memperjuangkan kepentingan rakyat. Ironisnya, di tengah ekonomi yang kian lesu, gaji honorer tertahan hingga enam bulan, kegiatan pemerintahan mandek, dan anggaran tak kunjung cair. Ruang dewan justru senyap. Tak terdengar dentuman kata‑kata lantang yang biasa menggelegar kala hak mereka sendiri tersentil. Publik pun mulai membaca tanda‑tanda. Ketika legislator berdiam, muncul dugaan tarik‑menarik kepentingan.

Suara Yang Sudah Terbeli

Namun, tidak semua kesalahan bisa ditimpakan semata‑mata kepada legislatif. Demokrasi ini pernah-dan kerap-diperdagangkan di bilik suara. Pada pemilihan lalu, sebagian suara rakyat telah dibeli, entah melalui amplop tebal, janji proyek, atau bantuan sesaat. Ketika hak pilih ditukar dengan uang, kuasa moral untuk menuntut wakil rakyat pun tergerus. Dan itu menciptakan mata rantai kesalingtergantungan, pemodal menagih balas jasa, politisi melunasi utang budi, sementara rakyat yang menjual suara menerima “ganjaran” berupa kebijakan setengah hati.

Inilah harga yang harus dibayar, saat honorer menggigil menunggu upah, saat tenaga pembangunan terhenti, dan daya beli jatuh bebas, kita teringat bahwa demokrasi murah adalah demokrasi mahal. Legislatif memang layak dikritik. Bahkan dipaksa untuk bersuara lantang. Tetapi publik juga wajib berkaca, hak pilih bukan komoditas yang diperdagangkan, melainkan mandat suci nurani.

Diamnya Legislatif, Saatnya Pemuda Berbicara

Gedung parlemen yang sunyi adalah tamparan bagi demokrasi. Jika wakil rakyat bungkam, ruang demokrasi tak boleh kosong. Pemudalah yang harus bersuara, lewat forum publik, media sosial, diskusi kampus, hingga aksi moral. Energi, keberanian, dan idealisme mereka adalah penawar bagi kelumpuhan politik. Jika legislatif terus bungkam dan rakyat terus menderita, legitimasi moral patut kita pertanyakan. Ini bukan sekadar ajakan emosional. Ini alarm bagi kita semua.


Tajuk Rencana | insetgalusnews.com | akan terus mengawal isu ini, memberikan pandangan kritis. Untuk dibaca masyarakat Indonesia sebagai kontrol sosial dan menumbuhkan kesadaran kolektif.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:51 WIB

Jalan Blangkejeren-Kutacane Kembali Longsor, Pengguna Jalan Diminta Waspada

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:42 WIB

42 Santri Al Bunayya Ikuti Haflah Takrim, Karmilawati Tuntaskan Hafalan 30 Juz

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:24 WIB

Peringati Tahun Baru Islam, Santri Bunayya Tampilkan Tari Saman Cilik dan Raih Penghargaan Prestasi

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:55 WIB

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:29 WIB

Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi

Senin, 25 Mei 2026 - 12:13 WIB

Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:01 WIB

Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:11 WIB

Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan