“Ia tahu, umur hanyalah angka, Tapi amal bisa hidup selama-lamanya. Ia tahu, kuasa bisa lekas sirna, Tapi kebaikan tak pernah kehilangan makna. Tanah itu bukan sekadar bumi, Ia adalah benih masa depan yang hakiki. Tempat tumbuhnya ilmu dan bakti, Tempat mengalirnya doa tanpa henti. Dunia boleh melupakan nama, Tapi langit mencatat tiap langkahnya. Karena ia tidak meninggalkan warisan, Tapi ia mewariskan kehidupan. Bagaimana dengan kita?”
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Di sebuah zaman yang ramai oleh ambisi dan kerakusan, ketika tolak ukur kesuksesan sering kali ditimbang dengan jumlah rekening atau luas tanah yang dimiliki. Seorang lelaki di ujung usia justru memberi pelajaran penting tentang apa arti menjadi manusia yang utuh.
Haji Kamaluddin. Warga Blangkejeren yang telah menutup lembaran karier panjangnya sebagai abdi negara, memutuskan untuk meninggalkan jejak yang tak bisa dihitung dengan angka. Ia tidak mewariskan gedung tinggi, bukan pula bisnis yang menghasilkan pundi-pundi uang. Namun ia mewariskan sesuatu yang jauh lebih mulia, “sebidang tanah untuk kehidupan, dan secarik keteladanan untuk peradaban”
Tanah seluas lebih dari 12.000 meter persegi itu ia wakafkan untuk Muhammadiyah Gayo Lues. Tanpa syarat. Tanpa pamrih. “Untuk perguruan tinggi, panti asuhan, atau apa saja yang bermanfaat,” katanya lirih, tetapi tegas. Di matanya yang mulai berkaca-kaca, kita bisa membaca ketulusan yang barangkali sudah langka kita temukan hari ini.
Langkah Haji Kamaluddin bukan sekadar aksi sosial, tapi ia sedang menanam benih untuk masa depan. Ia ingin dari tanah itu tumbuh ilmu, tumbuh doa, dan tumbuh amal jariyah yang akan terus mengalir bahkan setelah tubuhnya tak lagi ada.
Dalam dunia yang serba tergesa dan materialistik, keputusan seperti ini adalah oase yang menyegarkan. Ia tidak menunggu jadi miliarder untuk berbagi. Ia tidak menunggu dipuja sebelum memberi. Ia hanya ingin bermanfaat. Dan itu cukup membuatnya menang.
Banyak orang ingin dikenang karena kekuasaannya. Tapi Haji Kamaluddin akan dikenang karena kebaikannya. Ia tahu, harta akan habis, jabatan akan berakhir, tapi “amal akan hidup lebih lama dari umur manusia itu sendiri”.
Teladan seperti ini semestinya tak berhenti di sini. Ia harus menular, menjadi inspirasi, menjadi percikan yang menyalakan semangat baru dalam kehidupan sosial kita. Agar kita tak lupa, bahwa keberhasilan hidup tak hanya diukur dari apa yang kita miliki, tapi dari “apa yang kita tinggalkan untuk orang lain”.
Semoga tanah wakaf itu menjadi lahan tumbuhnya generasi yang cerdas dan berakhlak. Dan semoga kebaikan Haji Kamaluddin menjadi cahaya abadi. Menerangi jalan banyak orang menuju kehidupan yang lebih bermakna.
“Ia tak menyisakan warisan, Tapi mewariskan kebaikan yang tak pernah padam. Ia berharap dari tanah ini, akan tumbuh ilmu, Doa, dan amal jariyah abadi.”
Dia telah menebar kebaikan di ujung usianya. Tapi bagaimana dengan kita, aku, kamu, dan dia yang masih diberi waktu? Sudahkah kita berbuat sebaik itu, atau masih sibuk dengan diri sendiri?
Tajuk Rencana insetgalusnews ini disusun berdasarkan wawancara langsung dengan narasumber dan informasi yang diperoleh hingga tanggal publikasi. Pandangan yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan refleksi redaksi dan tidak dimaksudkan untuk tujuan komersial atau politis. Redaksi berkomitmen menjaga akurasi, integritas, dan nilai-nilai jurnalistik dalam setiap publikasi.


































