Tan Malaka | Madilog | dan Cermin Gayo Lues Hari Ini

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Sabtu, 6 September 2025 - 17:07 WIB

50590 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di sebuah masa yang penuh gejolak, Tan Malaka menulis Madilog sebagai lentera bagi bangsa yang masih mencari jalannya. Ia mengajak rakyat untuk berani berpikir dengan nalar, menimbang dengan ilmu, dan tidak tunduk pada mitos semata. Pesan itu, meski lahir dari ruang dan waktu berbeda, masih bergaung hingga ke pelosok negeri.

Gayo Lues hari ini, misalnya, tengah berhadapan dengan dilema besar, menjaga kopi dan hutan sebagai warisan kehidupan, atau tergoda janji singkat dari korporasi yang menekan. Dalam situasi seperti ini, ajakan Tan Malaka untuk kembali pada cara berpikir rasional, kritis, dan berpihak pada kepentingan rakyat menjadi semakin relevan

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Lebih dari tujuh dekade lalu, Tan Malaka menulis Madilog sebuah seruan agar bangsa berani berpikir rasional, tidak sekadar larut dalam tradisi tanpa nalar. Madilog bukan sekadar buku filsafat, melainkan obor yang menantang bangsa untuk berpijak pada logika, ilmu, dan pengalaman hidup.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bila pandangan itu kita arahkan ke Gayo Lues hari ini, cerminnya masih terasa jernih, kopi rakyat butuh perlindungan, isu tambang terus menghantui, dan nasib petani di Kawasan Ekosistem Leuser belum juga menemukan kepastian.

Tan Malaka, pemikirannya mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari kolonialisme politik, melainkan juga merdeka dalam ekonomi. Pesan ini menohok realitas kita. Sebagian keluarga di Gayo Lues masih bergulat dengan harga kebutuhan pokok yang tinggi, keterbatasan akses pasar, serta ancaman eksploitasi atas sumber daya alam yang belum tentu berbalas kesejahteraan.

Lebih jauh, Tan Malaka menegaskan arti kedaulatan. Pertanyaannya kini? apakah masyarakat Gayo Lues sudah benar-benar berdaulat atas hutan Leuser, atas kopi yang mereka tanam, dan atas sumber air yang menjadi nadi kehidupan? Pertanyaan ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah, melainkan untuk mengajak refleksi apakah arah pembangunan benar-benar sejalan dengan kepentingan rakyat banyak, atau hanya berhenti pada retorika.

Tanggung jawab pemerintah, Legislatif, dan tokoh masyarakat adalah memastikan pembangunan tidak berhenti pada seremoni dan slogan, melainkan menghadirkan manfaat nyata bagi warga. Hanya dengan begitu cita-cita kemerdekaan yang pernah diperjuangkan para pendiri bangsa, termasuk Tan Malaka melalui Madilog, dapat diwujudkan secara berkelanjutan di Gayo Lues.

Tan Malaka dalam Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) mengemukakan cara berpikir yang kritis dan inovatif. Ia menekankan pentingnya pemikiran ilmiah dan logika dialektika sebagai alat utama memahami kenyataan sosial dan dunia. Pandangan inilah yang patut dijadikan bekal generasi kita untuk menata masa depan dengan keberanian dan kesadaran penuh.

Hanya dengan keberanian berpikir jernih dan berpihak pada rakyat, semangat Madilog bisa benar-benar hidup di negeri ini.


Catatan Redaksi: Tajuk rencana ini ditulis untuk memberi pemahaman dengan merujuk pada semangat dan pemikiran Tan Malaka. Pandangan ini bersifat reflektif, tidak ditujukan untuk menyerang pihak tertentu, dan disusun sesuai Kode Etik Jurnalistik.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:51 WIB

Jalan Blangkejeren-Kutacane Kembali Longsor, Pengguna Jalan Diminta Waspada

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:42 WIB

42 Santri Al Bunayya Ikuti Haflah Takrim, Karmilawati Tuntaskan Hafalan 30 Juz

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:24 WIB

Peringati Tahun Baru Islam, Santri Bunayya Tampilkan Tari Saman Cilik dan Raih Penghargaan Prestasi

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:55 WIB

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:29 WIB

Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi

Senin, 25 Mei 2026 - 12:13 WIB

Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:01 WIB

Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:11 WIB

Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan