Pacuan Kuda, Warisan Leluhur dan Semangat Kemerdekaan

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Senin, 13 Oktober 2025 - 21:48 WIB

50478 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konon, orang Gayo zaman dulu tidak butuh healing trip ke laut atau kafe estetik untuk melepas penat. Begitu padi masuk lumbung, yang dicari bukan kopi susu dingin, tapi kuda yang laju dan penonton yang riuh. Saat itu, pacuan kuda adalah pesta rakyat sebagai tempat ajang bersyukur, bergembira, dan kadang… mencari jodoh sekilas pandang di pinggir arena

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Dulu, setiap usai panen padi “yang hanya setahun sekali” masyarakat Gayo menggelar pacuan kuda di tanah lapang. Tak ada tribun megah, tak ada pengeras suara, tapi ada semangat, tawa, dan kebersamaan yang mengalir di antara derap kuda dan debu yang beterbangan. Pacuan kuda kala itu adalah cara orang Gayo bersyukur atas hasil bumi dan menegaskan “kami bisa bahagia tanpa listrik dan livestream.”

Kini, tradisi itu terus berdenyut di Buntul Nege. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, lewat agenda memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, kembali menggelar pacuan kuda tradisional. Langkah ini bukan sekadar pelestarian budaya, tapi juga pengingat bahwa modernitas tak harus menghapus akar tradisi.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pacuan kuda adalah napas warisan leluhur. Lambang sportivitas, persaudaraan, dan kebersamaan yang lahir dari tanah pegunungan Gayo. Namun, seperti padi yang tumbuh subur karena dirawat, tradisi juga harus dijaga agar tak mati ditelan zaman. Mengelola pacuan kuda sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata rakyat akan memberi manfaat ganda. Budaya tetap hidup, ekonomi pun ikut berputar.

Derap langkah kuda di Buntul Nege bukan hanya pertunjukan hiburan. Ia adalah gema masa lalu yang terus berlari menuju masa depan, membawa pesan sederhana “kemajuan sejati adalah ketika tradisi dan modernitas bisa berpacu seirama”.


Tajuk Rencana | insetgalusnews | ini mengandung kadar nostalgia dan kelakar ringan yang aman untuk kesehatan jiwa. Jika setelah membaca Anda tiba-tiba ingin menunggang kuda atau membuka warung kopi di pinggir lapangan pacu, itu bukan tanggung jawab redaksi. Tapi kalau ikut tersenyum, berarti semangat Gayo masih hidup di dada Anda.

Redaksi | insetgalusnews.com

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:51 WIB

Jalan Blangkejeren-Kutacane Kembali Longsor, Pengguna Jalan Diminta Waspada

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:42 WIB

42 Santri Al Bunayya Ikuti Haflah Takrim, Karmilawati Tuntaskan Hafalan 30 Juz

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:24 WIB

Peringati Tahun Baru Islam, Santri Bunayya Tampilkan Tari Saman Cilik dan Raih Penghargaan Prestasi

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:55 WIB

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:29 WIB

Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi

Senin, 25 Mei 2026 - 12:13 WIB

Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:01 WIB

Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:11 WIB

Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan