Di Gayo Lues, rumput bisa tumbuh tanpa disiram, tapi harapan petani sering layu sebelum panen. Di sini, suara cangkul lebih sering bersaing dengan berita penangkapan. Padahal yang mereka cari bukan sensasi, hanya sesuap nasi. Begitulah kisah G. Ia bukan penjahat, hanya petani yang tersesat di jalan sempit kehidupan. “Saya tidak punya sawah, setiap hari harus beli beras untuk makan,” katanya lirih, seakan bicara pada tanah yang dulu ia harap bisa memberi makan.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Kisah G bukan sekadar catatan kriminal di papan Polres, melainkan potret getir kehidupan di tanah yang indah namun kerap terlupakan. Ia hanyalah satu dari banyak wajah petani yang kalah oleh keadaan. Di Gayo Lues, masih banyak tanah belum tersentuh alat bajak, tapi sudah tersentuh tangan hukum. Banyak petani yang ingin menanam harapan, namun pupuk dan modal justru langka. Sementara harga hasil tani sering kali lebih pahit dari jerih payahnya sendiri. Maka jangan heran bila sebagian warga memilih jalan singkat, meski berisiko panjang.
Padahal, negeri seribu bukit ini menyimpan kekayaan yang jauh lebih harum dari ganja. Ada kopi Gayo, nilam, aren, dan jahe merah. Semuanya bisa tumbuh subur jika diberi perhatian sungguh-sungguh. Yang dibutuhkan petani bukan sekadar penyuluhan di aula, tapi pendampingan di ladang. Bukan janji bantuan musiman, melainkan akses modal dan pasar yang berkelanjutan.
Kita tidak bisa memerangi ganja hanya dengan cangkul polisi dan korek api. Perang itu harus dilakukan dengan kebijakan ekonomi yang berani dan berpihak pada rakyat. Saat satu ladang ganja dimusnahkan, seharusnya satu ladang kopi ditanam. Saat satu petani ditangkap, seribu petani lain harus dibina agar tak mengulangi kesalahan yang sama.
Sudah saatnya Pemerintah Daerah turun dengan langkah konkret.
Lakukan pemetaan wilayah pertanian secara menyeluruh untuk menentukan jenis tanaman yang paling cocok di setiap kawasan, dari dataran tinggi hingga lembah. Setiap jengkal tanah memiliki potensinya sendiri. Setelah itu, fokuskan pemberdayaan petani secara berkelanjutan,-
- Pelatihan budidaya berbasis hasil riset lokal,
- Fasilitasi akses permodalan yang ringan dan adil,
- Pembukaan jaringan pasar agar produk petani tak berhenti di tengkulak.
Kebijakan berbasis data dan keberpihakan pada rakyat kecil akan jauh lebih kuat daripada seribu operasi penertiban. Karena yang sedang diperangi bukan sekadar daun ganja, melainkan akar dari kemiskinan itu sendiri.
Kasus G seharusnya menjadi cermin. Hukum tanpa pemberdayaan hanya melahirkan ketakutan, bukan perubahan. Petani tidak butuh belas kasihan mereka hanya butuh kesempatan. Jika ekonomi rakyat dibuat subur, ganja tak lagi hijau menggoda.
Tajuk | insetgalusnews | ini bukan untuk menggurui siapa pun, apalagi menanam benih perdebatan. Kami hanya ingin menanam sedikit logika dan menuai senyum dari pembaca. Kalau ada yang tersindir, mungkin karena sedang dekat dengan ladangnya. Artikel ini juga tidak menjanjikan panen raya, tapi siapa tahu bisa menumbuhkan ide baru. Bacalah dengan hati yang lapang dan pikiran yang subur, sebelum hujan komentar turun di kolom bawah.


































