Bagi sebagian orang, pulang berarti kembali ke tempat kelahiran. Bagi sebagian lainnya, pulang adalah menemukan kedamaian setelah menempuh perjalanan panjang kehidupan. Bagi Edwar Canto, pulang memiliki makna yang jauh lebih dalam. Pulang adalah kembali kepada keluarga, kepada nilai-nilai yang diwariskan para pendahulunya, dan kepada pengabdian yang telah menjadi napas hidupnya selama puluhan tahun.
PARIWARA | insetgalusnews.com | Hampir tiga dekade telah berlalu sejak Edwar Canto meninggalkan kampung halamannya sebagai seorang sarjana muda yang penuh harapan. Ia pernah hidup dan bekerja di tengah daerah konflik. Ia pernah merantau jauh dari keluarga demi menggapai cita-cita. Ia pernah meniti karier dari bawah sebagai petugas lapangan, peneliti, birokrat daerah, hingga menjadi bagian dari tata kelola pangan nasional. Semua itu dijalaninya dengan kesungguhan, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap langkah memiliki makna.
Semakin panjang perjalanan yang ditempuhnya, semakin ia memahami ukuran keberhasilan bukanlah seberapa tinggi jabatan yang berhasil diraih atau seberapa banyak penghargaan yang berhasil dikumpulkan. Baginya, keberhasilan sejati adalah ketika ilmu yang dimiliki mampu memberi manfaat bagi masyarakat dan ketika pengabdian meninggalkan jejak yang dapat dirasakan oleh banyak orang.
Prinsip itu yang selalu ia pegang dalam setiap fase kehidupannya. Ketika menjadi peneliti, ia meyakini ilmu pengetahuan harus hadir menjawab kebutuhan masyarakat. Saat menjadi birokrat, ia percaya kebijakan harus berpihak kepada rakyat dan mampu memberikan dampak nyata. Ketika terlibat dalam pendidikan dan pelatihan, ia berusaha menularkan pengalaman serta membangun kepercayaan diri generasi muda agar berani bermimpi lebih besar daripada generasi sebelumnya.
Mereka yang pernah bekerja bersamanya mengenal Edwar sebagai pribadi yang tidak pernah berhenti belajar. Ia memandang setiap tugas sebagai ruang pembelajaran dan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk tumbuh. Kesederhanaan yang melekat dalam dirinya membuat ia mudah diterima oleh berbagai kalangan. Ia dapat berbicara dengan petani di ladang tanpa sekat, berdiskusi dengan akademisi di ruang seminar, hingga berkoordinasi dengan para pengambil kebijakan di tingkat nasional dengan semangat yang sama; mencari solusi dan memberi manfaat.
Di balik berbagai pengalaman dan pencapaiannya, Edwar tetap melihat dirinya sebagai anak kampung dari Blangkejeren. Anak yang tumbuh dari kisah perjuangan Guru Angong, sang kakek yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan di pedalaman. Anak yang dibesarkan dengan keteladanan Buya Djamaan Fahmi, ulama dan tokoh pendidikan yang meletakkan fondasi keislaman serta kemajuan masyarakat Gayo Lues. Dari kedua sosok itulah ia belajar, ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pengabdian, dan jabatan hanyalah amanah yang suatu saat akan ditinggalkan.
Kini, ketika masa pengabdiannya sebagai aparatur negara perlahan memasuki babak akhir, pandangannya justru semakin sederhana. Ia tidak lagi berbicara tentang posisi atau pencapaian pribadi. Perhatiannya tertuju kepada keluarga, kepada anak-anak yang sedang menapaki masa depan mereka masing-masing. Ia ingin hadir mendampingi mereka, memberikan bekal pengalaman hidup yang selama ini diperolehnya dari berbagai medan perjuangan.
Di sela-sela kesibukannya, ia juga mulai menata langkah menuju fase kehidupan berikutnya. Salah satu harapan yang ingin diwujudkannya adalah menunaikan ibadah haji, menyempurnakan perjalanan spiritual yang selama ini menjadi cita-cita bersama keluarga. Baginya, pengabdian kepada bangsa dan daerah harus berjalan seiring dengan pengabdian kepada Tuhan.
Edwar memahami, suatu saat semua jabatan akan berakhir. Nama mungkin perlahan akan dilupakan oleh waktu. Namun nilai-nilai kehidupan yang diwariskan akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. Sebagaimana Guru Angong dikenang karena dedikasinya terhadap pendidikan, dan Buya Djamaan Fahmi dikenang karena ilmu serta keteladanannya, ia berharap dapat meninggalkan warisan yang sama, “warisan pengabdian”.
Senja perlahan turun di langit Blangkejeren. Kabut tipis menyelimuti pegunungan yang mengelilingi Tanoh Gayo. Di tanah yang membesarkannya itulah perjalanan panjang Edwar Canto menemukan maknanya. Dari seorang anak kampung yang berangkat dengan mimpi sederhana, ia menjelma menjadi peneliti, birokrat, pendidik, dan penggerak pembangunan yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kemajuan masyarakat.
Perjalanan itu mungkin belum benar-benar berakhir. Selama napas masih berembus, selalu ada ruang untuk memberi manfaat. Namun satu hal telah menjadi pasti; jejak pengabdian yang ditinggalkan Edwar Canto akan terus hidup dalam cerita para petani yang pernah ia dampingi, para penyuluh yang pernah ia bina, para mahasiswa yang pernah ia motivasi, serta masyarakat yang pernah merasakan hasil kerja dan pemikirannya.
Karena pada akhirnya, warisan terbesar seorang manusia bukanlah apa yang berhasil ia miliki selama hidupnya, melainkan apa yang berhasil ia berikan kepada orang lain.
Dan bagi Edwar Canto, pengabdian adalah cara terbaik untuk meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.
Redaksi | insetgalusnews | Setiap orang memiliki cerita, tetapi tidak semua orang meninggalkan jejak. Kisah Edwar Canto mengajarkan keberhasilan bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang dapat kita bantu selama perjalanan. Jika setelah membaca kisah ini Anda teringat kepada guru, orang tua, atau kampung halaman, maka tujuan tulisan ini telah tercapai.


































