Di Gayo Lues, kini bukan cuma petani yang sibuk mencari cangkul, ASN pun mulai dilibatkan. Bedanya, kalau dulu abdi negara lebih akrab dengan tanda tangan dan laptop, sekarang mereka juga bisa dinilai dari seberapa dalam lubang tanamannya di kebun kopi. Ketika pemkab melakukan pendataan ASN pemilik lahan, sebagian mungkin sempat mengira ini rapat tanam perdana antar dinas. Tapi jangan salah, ini bukan lomba mencangkul massal, melainkan cara elegan pemerintah memastikan para abdi negara tidak hanya menanam tanda tangan, tapi juga menanam pohon kopi. Dan tentu saja, menanam teladan bagi masyarakatnya.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Ada yang menarik dari kebijakan terbaru Pemerintah Kabupaten Gayo Lues. Bupati meminta agar seluruh Aparatur Sipil Negara dan tenaga kontrak didata. Bukan untuk urusan gaji dan bukan pula soal pangkat atau tunjangan, melainkan untuk hal yang lebih “membumi”, kepemilikan lahan perkebunan.
Langkah ini terdengar sederhana, tapi sarat makna. Di tengah gempuran birokrasi yang kerap hanya sibuk di ruang ber-AC dan rapat berulang, pemerintah daerah ingin menegaskan pembangunan ekonomi sejati berawal dari tanah, dari kerja tangan, dari cangkul dan peluh di kebun sendiri.
Bupati ingin para ASN tidak sekadar menjadi pelayan publik, tetapi juga pelopor produktivitas. ASN diharapkan tak hanya menandatangani berkas, melainkan turut menanam dan memelihara tanaman di lahan-lahan yang selama ini dibiarkan tidur panjang.
Gerakan pendataan ini bukan sekadar soal data, tetapi tentang mentalitas baru. Sebelum masyarakat digerakkan, para abdi negara harus lebih dulu memberi contoh. Sebab keteladanan, seperti halnya kopi Gayo, tak tumbuh dari ucapan. Ia tumbuh dari proses panjang, dari tanah, dari keringat, dan dari kemauan untuk turun tangan.
Lebih jauh, inisiatif ini selaras dengan cita-cita membangun ekonomi daerah berbasis hasil bumi, terutama kopi, yang telah lama menjadi identitas Gayo Lues. Bila ASN ikut menanam dan merawat kebunnya, maka geliat pertanian akan menjadi gerakan bersama, bukan lagi tugas petani semata, tapi kehormatan seluruh warga negeri Seribu Bukit.
Memang, tidak semua ASN harus pandai mencangkul. Namun kalau semangat bertani bisa menular dari kalangan birokrat yang biasanya sibuk dengan rapat dan laporan, itu pertanda baik, kerja keras sedang naik pangkat menjadi budaya.
Kebijakan ini patut diapresiasi. Ia sederhana tapi menyentuh akar, sebelum pemerintah mengajak rakyat bekerja, biarlah pemerintah lebih dulu memberi teladan, bahkan jika itu berarti menggenggam cangkul dan menanam kopi di kebun sendiri.
Dan tentu saja, pesan humor dari tajuk ini jelas. ASN boleh semangat turun ke kebun, tapi tolong, jangan bawa cangkul ke kantor. Cukup bawa semangatnya saja.
Tajuk | insetgalusnews | ini tidak bermaksud menyarankan ASN meninggalkan kantor untuk menetap di kebun, apalagi menukar laptop dengan cangkul. Namun, jika suatu hari aroma kopi hasil panen ASN tercium di ruang rapat, redaksi tidak bertanggung jawab atas meningkatnya semangat kerja dan menurunnya permintaan kopi sachet.


































