Cilik Bontok, Kepala Timah, dan Mental Imperialis

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 9 September 2025 - 21:15 WIB

50695 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mental imperialis tak pernah mati. Ia hanya berganti rupa dari kapal perang menjadi investasi dan utang. Seperti cilik bontok dan kepala timah, mental imperialis tetap rakus. Tenang melahap. Atau bising menguasai

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Di pedataran tinggi Gayo, khusunya Gayo Lues. Dua ikan endemik kerap jadi cerita “cilik bontok dan cilik kepala timah“. Sekilas berbeda rupa, tapi tabiatnya sama “tidak peduli pada kehidupan lain di sekitarnya”.

Cilik bontok hidup di air tenang. Diam, seolah tak berbahaya. Namun sekali ia bergerak, habislah apa saja yang melintas. Inilah cermin mental imperialis diam-diam, datang dengan senyum, menawarkan persahabatan, perdagangan, bahkan “peradaban”. Tetapi di balik keramahan, lahap habislah sumber daya, tenaga, dan bahkan harga diri suatu bangsa.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Cilik kepala timah lain pula. Ia melompat-lompat di arus deras, kepalanya besar, seakan gagah.  Tapi sejatinya hanya mencari perhatian. Inilah wajah mental imperialis bising, hadir dengan jargon kemajuan, kebebasan, demokrasi. Banyak kata, banyak sorak, tetapi ujungnya sama. Menguasai dan menghisap.

Sejarah membuktikan, penjajahan tak selalu datang dengan bedil. Ada yang menyamar lewat dagang, ada yang datang lewat utang. Bedanya hanya gaya, bukan tabiat. Mental imperialis tetap sama-rakus, congkak, dan lupa pada kehidupan orang lain.

Kini, di abad ke-21, bentuknya mungkin bukan kapal perang, melainkan investasi global, perdagangan timpang, atau proyek yang menjerat. Mereka hadir dengan wajah modern, tetapi pola pikirnya masih sama. Ingin menguasai aliran sungai, ladang, hutan, hingga ruang rapat korporasi.

Pertanyaan bagi kita? apakah kita akan terus jadi sungai yang membiarkan cilik bontok dan kepala timah modern berenang bebas? Atau kita berani melawan arus, menolak mental imperialis yang selalu lapar dan tak kenal cukup?


Redaksi | insetgalusnews | Tulisan ini adalah pandangan redaksi, bukan laporan ilmiah biologi perairan. Cilik bontok dan cilik kepala timah hanyalah metafora. Segala perbandingan diarahkan pada mental imperialis, baik klasik maupun modern, yang rakus terhadap sumber daya. Jika ada yang merasa tersindir, renanglah sejenak-atau cukup baca ulang dengan kepala dingin.

Berita Terkait

ANEKDOT Tiga Sekawan Dan Mukjizat Tanaman Kopi
Dia Tu Lagi Lucu Lucunya…. Jaman Dulu; Kerja-Baru Prestasi-Jaman Digital; Penghargaan Dulu-Kerja Nanti
Negeri dalam Mode “Siap, Pak!” Kalau Semua Bilang “Siap”, Siapa yang Bilang Salah?
Kopi Sudah Mau Go International, GERETEK Masih Cari Sinyal
Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 12:37 WIB

Lagi, Polisi Amankan Dua Pria dan Sita 1,65 Gram Sabu di Kampung Jawa

Senin, 14 September 2026 - 14:30 WIB

Sungai Tripe Meluap, Dua Akses Penghubung Kecamatan di Gayo Lues Tak Bisa Dilintasi

Minggu, 13 September 2026 - 16:38 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria, Sabu 1,28 Gram Disita

Rabu, 9 September 2026 - 11:10 WIB

Delapan Titik Longsor Puteri Betung Lumpuhkan Jalan Kutacane-Blangkejeren

Rabu, 9 September 2026 - 08:30 WIB

Kebakaran Dini Hari di Kutepanyang, 17 Rusak Berat, 3 Rusak Ringan

Jumat, 4 September 2026 - 20:12 WIB

Komisi I Apresiasi Polres Ungkap Peredaran Sabu. Ia Dorong Polisi Kejar Pemasok

Jumat, 4 September 2026 - 17:54 WIB

Polisi Tangkap Pria di Gele, Sabu 0,64 Gram Jadi Barang Bukti

Rabu, 2 September 2026 - 10:50 WIB

Aceh Masuk Kategori Siaga BMKG, Hujan Lebat dan Angin Kencang Mengintai

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan