PARIWARA | insetgalusnews.com | Wajah G (45) seorang petani di kampung Uring, Pining Gayo Lues tampak pasrah ketika menceritakan alasannya menanam ganja. Di balik penangkapan yang kini menjerat dirinya tersimpan kisah getir tentang perjuangan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Kepada insetgalusnews.com, Senin (3/11/2025), G (45) mengaku keputusan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan. “Saya tidak punya sawah. Setiap hari harus beli beras untuk makan. Dari hasil tani saja tidak cukup. Pangan saja susah, apalagi sandang,” katanya pelan, menahan air mata sebelum konferensi pers di lobi Polres Gayo Lues.
Ia menceritakan, tanah di kampung Uring tergolong gersang, hanya ditumbuhi pinus dan sulit diolah. Hasil panen tidak seberapa, sementara harga kebutuhan pokok terus naik. Sebagai ayah, ia hanya ingin keluarganya hidup layak, meski sedikit lebih baik dari sekadar cukup.
“Sebagai orang tua, saya rela melakukan apa pun demi anak-anak saya agar bisa makan dan sekolah,” ujarnya lirih. “Kalau saya tertangkap, itu memang sudah bagian dari jalan hidup. Mungkin ini cara Tuhan untuk menegur.”
Kini, G (45) hanya berharap anak-anaknya bisa belajar dari kesalahannya, di balik setiap jalan pintas, selalu ada harga mahal yang harus dibayar.
Redaksi | insetgalusnews


































