Di balik riuh politik masa lalu, ada satu nama yang tak lagi bersuara namun terus bergema dalam ingatan warga. Ia tak lagi hadir di bale-bale bambu tempat dulu ia menenangkan hati rakyat, tapi jejak langkahnya tetap terasa di tanah Kutepanyang. Dialah Kuaket Tue bukan sekadar wakil rakyat, melainkan pelita kampung yang menerangi tanpa meminta dipuja.
PARIWARA | insetgalusnews.com | Disebuah sudut sunyi Bur Tampeng, Kutepanyang, nama itu masih berbisik dalam ingatan warga “Kuaket Tue”. Bukan semata sebuah panggilan, tetapi penghormatan bagi seorang tokoh yang hidupnya ditabalkan sebagai teladan, teungku kampung yang menjadi wakil rakyat di era Orde Baru.
Ia bernama lengkap H Abdullah MA, lahir dan besar di Gayo Lues, lalu menapaki jalan pengabdian panjang hingga dipercaya menjadi tokoh tua (tue) yang menjadi tumpuan warga Kutepanyang. Sebelum melangkah ke kursi dewan, ia lebih dulu mengabdikan diri sebagai pejabat Kantor Urusan Agama (KUA) di Kutepanyang, Kabupaten Aceh Tenggara. Dari sanalah masyarakat mulai memanggilnya dengan hormat “Kuaket Tue” sosok tua bijak yang menjaga marwah agama dan adat.
Pada pemilihan tahun 1987, ketika Gayo Lues masih berstatus Daerah Pembantu Bupati Aceh Tenggara dan hanya terbagi dalam lima kecamatan, Blangkejeren, Kutepanyang, Rikit Gaib, Terangun, dan Pining, kuaket Tue tampil sebagai keterwakilan dari Kecamatan Kutepanyang. Pemilihan saat itu masih mengacu pada nomor urut yang disejajarkan dengan kader Golkar di Kota Cane, namun ia justru dikenal bukan karena nomor di kertas suara, melainkan nama di hati rakyat.
Ia terpilih menjadi anggota DPRD Aceh Tenggara untuk dua periode, bersama sahabat seperjuangannya, H Hasan Burhan dari kecamatan Terangun. Namun takdir berkata lain, pada periode kedua, sebelum tuntas menunaikan amanah, Kuaket Tue berpulang ke rahmatullah pada 08 Juli 1992 di Bambel, Kutacane. Jenazahnya kemudian dibawa kembali ke tanah kelahirannya dan dimakamkan di Bur Tampeng, Kutepanyang.
Ia meninggalkan seorang istri yang pada masanya dijuluki bunga desa, Hj Buyah binti Ahmad, asal Akul, Blang Jerango (dulu Terangun), serta beberapa putra-putri yang kini meneruskan jejak namanya sebagai kebanggaan keluarga dan kampung halaman.
Namun lebih dari jabatan, nama Kuaket Tue dikenang karena tiga hal, kesederhanaan, kedekatan dengan warga, dan keberanian berdiri bagi kepentingan kampung. Ia tak pernah meninggikan kursi dewan di atas tikar rumah rakyat. Rumahnya tak pernah sepi dari tanya, dan ia selalu menjawab dengan senyum, bukan slogan.
“Ia bukan sekadar anggota dewan, tapi bapak kampung yang tak pernah menolak datang saat dipanggil tengah malam hanya untuk menenangkan warga yang berselisih,” kenang salah satu warga Kutepanyang.
Di tengah derasnya arus politik yang kian jauh dari hati rakyat, sosok seperti Kuaket Tue menjadi lentera sejarah, menjadi wakil rakyat bukan tentang berdiri di atas podium, tapi duduk setara di bale-bale bambu bersama masyarakat yang diwakili.

Kini, ketika generasi muda Golkar terus tumbuh, nama H Abdullah MA “Kuaket Tue dan H Hasan Burhan” menjadi cermin bahwa kemenangan sejati bukan saat disumpah di ruang paripurna, tetapi ketika namamu abadi di hati rakyat setelah engkau tiada.
Di tengah kenangan yang terus hidup, generasi muda Golkar tak tinggal diam. Ali Amran, kader muda dari Daerah Pemilihan II, justru menjadikan sosok Kuaket Tue dan H Hasan Burhan sebagai kompas pengabdian.
“Bagi kami yang tumbuh sebagai kader muda di dapil yang pernah beliau wakili, nama Kuaket Tue bukan sekadar sejarah, tapi warisan keberanian untuk jujur dan tulus membela rakyat. Kami mungkin tidak sempat berjumpa langsung, tapi cerita tentang kesederhanaannya beredar di setiap warung kopi dan pengajian kampung. Kalau hari ini kami berdiri membawa panji Golkar, itu karena beliau pernah menunjukkan bahwa baju kuning bukan seragam elitis, tapi pakaian perjuangan untuk masyarakat kecil,” ujar Ali Amran ketika ditemui seusai kegiatan ziarah kepusara para sepuh tersebut, Minggu (19/10/2025).
Ali menambahkan, generasi muda Golkar hari ini tidak hanya mewarisi nama besar partai, tetapi juga seharusnya meneruskan gaya kepemimpinan yang dekat dengan rakyat, sebagaimana dicontohkan Kuaket Tue dan H Hasan Burhan.
“Beliau tidak punya mikrofon saat berkampanye, tapi punya kepercayaan warga. Tidak punya baliho besar, tapi punya hati besar yang merangkul banyak orang. Jika kami ingin sukses seperti beliau, maka kami harus kembali ke basis menyentuh hati rakyat, bukan sekadar mengejar suara,” tegasnya.
Dengan begitu, perjalanan hidup Kuaket Tue kini telah menjadi pelajaran generasi, politik bukan hanya tentang terpilih, tetapi tentang tetap dikenang setelah tak lagi ada.
Redaksi | insetgalusnews | Cerita ini bukan kampanye, bukan pula nostalgia politik yang ingin mengganggu ketenangan baju kuning zaman now. Bila setelah membaca artikel ini Anda tiba-tiba ingin nyalon DPR, itu sepenuhnya risiko pribadi dan bukan tanggung jawab redaksi. Jika ada kader muda yang merasa terpanggil setelah membaca kisah Kuaket Tue, silakan lanjutkan perjuangan… tapi ingat, jadi teladan itu lebih berat daripada sekadar pakai jas kuning buat foto profil.


































