“Kami di tengah, bukan di pinggir, Suara lirih dari bukit dan kabut, Ingin dapur sendiri, Tanpa harus keluar rumah ke rumah tetangga. Kami tetap Aceh, jangan salah paham, Hanya ingin strategi baru, bukan kiblat baru, Syariat tetap kami junjung, Dengan sarung tebal, bukan celana cingkrang. Bukan rebutan warisan, Kami cuma ingin jembatan diperbaiki Tanpa proposal tiga jilid dan lima musim. Kalau besok ada Provinsi Tengah Aceh. Itu bukan makar, Cuma anak kos yang pengin ngontrak, Tapi tetap pulang kalau rindu ibu”
TAJUK RENCANA | Insetgalusnews.com | Di sebuah belahan Aceh yang tak selalu diundang dalam rapat-rapat besar provinsi, suara lirih dari pegunungan Gayo dan Alas mulai menggema “Boleh kami punya provinsi sendiri, tapi jangan khawatir… kami tetap Aceh, kok.”
Seperti pasangan suami istri yang lelah tinggal serumah tapi tak ingin cerai, wilayah tengah Aceh tampaknya ingin pisah ranjang administratif, namun tetap tidur dalam selimut ke-Acehan yang hangat dan harum aroma kopi arabika.
Wilayah tengah bukan sekadar dataran tinggi berkabut. Di sanalah kopi terbaik dunia tumbuh tanpa banyak seremoni. Sayangnya, jalan menuju kebun terasa seperti dilalui kawanan gajah patah hati-rusak, sepi perhatian.
“Setiap musim Musrenbang, kami lebih sering dapat tepuk tangan daripada anggaran,” keluh seorang tokoh adat sambil menyeruput kopi pahit. Tanpa gula. Tanpa harapan.
Maka muncul gagasan-kalau tak dianggap anak emas, mungkin waktunya punya rumah sendiri. Bukan kabur, tapi supaya bisa masak sendiri, jemur sendiri, dan tak terus-menerus pinjam colokan dari rumah tetangga.
Beberapa dari pesisir menyebut ini manuver politik. “Kenapa harus buat provinsi baru? Bukankah kita satu darah?”
Tentu. Tapi darah pun butuh pembuluh sendiri agar tidak buntu. Saking sibuknya urat nadi di Banda Aceh, daerah tengah kadang tak kebagian oksigen pembangunan. Bahkan memperbaiki jembatan gantung yang sudah tak bergantung pun perlu proposal berjilid-jilid.
Sebagian khawatir, “Kalau pisah provinsi, jangan-jangan mereka tidak ikut syariat lagi!”
Tenang, Pak. Ini bukan soal ganti agama, hanya ganti strategi. Syariat tetap dijunjung tinggi. Tapi kalau di pesisir celana cingkrang adalah simbol taat, di gunung cukup sarung tebal, karena dingin lebih menguji daripada godaan.
Pembentukan provinsi baru ini bukan rebutan warisan atau harta gono-gini. Kami tidak minta saham tambang. Cukup bisa urus jalan desa, bikin akta kelahiran tanpa menunggu musim durian, dan menyalakan lampu dapur tanpa minta izin ke rumah induk.
Kalau nanti terbentuk Provinsi Aceh Leuser Antara dari wilayah Tengah Aceh, jangan buru-buru mengangkat alis. Kami bukan makar. Kami hanya lelah jadi penonton di rumah sendiri. Ini bukan perceraian. Ini anak kos yang akhirnya bisa ngontrak. Masih sering pulang, tapi tidak harus izin kalau mau hidupkan kompor.
Aceh itu indah karena beragam. Tapi ragam itu jangan sekadar jadi pajangan. Tengah Aceh ingin tumbuh dan bergerak tanpa harus menempuh belasan jam perjalanan ke ibu kota provinsi hanya demi urusan cap basah.
Kami tidak sedang memecah belah. Kami cuma ingin membelah pisang goreng agar adil dibagi. Kalau ada yang tersinggung, mungkin sedang duduk di kursi empuk tanpa ventilasi atau berada persis di jalur kritik ini.
Provinsi baru? Itu urusan pemerintah. Tapi tulisan ini? Ini suara hati warga yang ingin masak air sendiri, tanpa harus pinjam kompor ke rumah sebelah.
Jangan baper. Ini bukan maklumat makar. Kami hanya sedang menyeduh opini. Disajikan hangat, seperti kopi Gayo-pahit, tapi bikin melek. Insetgalusnews.com | Media bebas dari subsidi, tapi penuh nutrisi bagi nalar yang lapar.
TAJUK | insetgalusnews | ini adalah karya satire. Setiap kalimatnya dimaksudkan untuk mengajak berpikir, bukan menghasut. Jika terasa menyindir, mungkin karena cermin sedang diarahkan ke sudut yang tepat.
Kami tidak sedang menggalang makar, hanya mengumpulkan harapan. Tidak sedang memecah Aceh, hanya mencoba menjahit yang terasa longgar di tengah.
Segala kemiripan dengan tokoh, lembaga, atau kebijakan nyata adalah hasil dari kenyataan itu sendiri, bukan fiksi kami.
Insetgalusnews.com tidak bertanggung jawab atas luka ego akibat tersandung kebenaran yang dibungkus kelakar.
Kalau Anda tersinggung, mohon periksa posisi: apakah sedang duduk nyaman terlalu lama, atau lupa bahwa rakyat juga bisa bersuara-meski dengan nada bercanda.


































