Di Gayo Lues, Senin pagi itu, halaman Kantor Bupati mendadak berubah seperti panggung wisuda. Bedanya, yang dibagikan bukan toga, tapi SK PPPK. Senyum merekah di wajah ratusan pegawai baru, meski dalam hati sebagian mungkin masih bingung “Setelah ini, apa masih boleh ngopi santai jam kerja?”
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Begitulah suasana khas setiap kali ada pengangkatan ASN atau PPPK. Penuh haru, bangga, dan… sedikit panik. Sebab di balik selembar SK itu, terselip tanggung jawab yang jauh lebih berat daripada sekadar tanda tangan di absensi pagi.
Bupati Gayo Lues sudah mengingatkan dengan tegas, jangan sampai baru sebulan menjabat, sudah “viral” karena urusan yang bukan kerja. Dunia digital memang tak kenal ampun, satu unggahan iseng bisa lebih cepat beredar daripada surat edaran resmi.
Menjadi aparatur bukan sekadar punya gaji tetap atau akses ke grup WhatsApp kantor. Itu soal tanggung jawab publik, soal bagaimana wajah birokrasi dilihat masyarakat. Karena di mata warga, setiap ASN adalah etalase negara, kalau kacanya buram, citranya ikut kusam.
Kita boleh bercanda, boleh tertawa, tapi jangan sampai melupakan makna serius dari pengabdian. Semoga 500 PPPK baru ini tak hanya rajin datang apel pagi, tapi juga hadir dalam hati masyarakat lewat pelayanan yang tulus.
Dan soal kopi pagi itu? Tak masalah, asal diseduh sebelum jam kerja, bukan saat antre warga sudah mengular di depan meja pelayanan.
TAJUK | insetgalusnews | ini ditulis dengan gaya humor untuk menghibur sekaligus mengingatkan, tanpa bermaksud menyinggung pihak mana pun.


































