Warisan yang Tak Terlihat, Tapi Terasa Selamanya

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Kamis, 10 Juli 2025 - 22:31 WIB

501,462 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Haji Kamaluddin posisi di tengah | doc | Mhd |

Haji Kamaluddin posisi di tengah | doc | Mhd |

“Ia tahu, umur hanyalah angka, Tapi amal bisa hidup selama-lamanya. Ia tahu, kuasa bisa lekas sirna, Tapi kebaikan tak pernah kehilangan makna. Tanah itu bukan sekadar bumi, Ia adalah benih masa depan yang hakiki. Tempat tumbuhnya ilmu dan bakti, Tempat mengalirnya doa tanpa henti. Dunia boleh melupakan nama, Tapi langit mencatat tiap langkahnya. Karena ia tidak meninggalkan warisan, Tapi ia mewariskan kehidupan. Bagaimana dengan kita?”

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Di sebuah zaman yang ramai oleh ambisi dan kerakusan, ketika tolak ukur kesuksesan sering kali ditimbang dengan jumlah rekening atau luas tanah yang dimiliki. Seorang lelaki di ujung usia justru memberi pelajaran penting tentang apa arti menjadi manusia yang utuh.

Haji Kamaluddin. Warga Blangkejeren yang telah menutup lembaran karier panjangnya sebagai abdi negara, memutuskan untuk meninggalkan jejak yang tak bisa dihitung dengan angka. Ia tidak mewariskan gedung tinggi, bukan pula bisnis yang menghasilkan pundi-pundi uang. Namun ia mewariskan sesuatu yang jauh lebih mulia, “sebidang tanah untuk kehidupan, dan secarik keteladanan untuk peradaban”

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tanah seluas lebih dari 12.000 meter persegi itu ia wakafkan untuk Muhammadiyah Gayo Lues. Tanpa syarat. Tanpa pamrih. “Untuk perguruan tinggi, panti asuhan, atau apa saja yang bermanfaat,” katanya lirih, tetapi tegas. Di matanya yang mulai berkaca-kaca, kita bisa membaca ketulusan yang barangkali sudah langka kita temukan hari ini.

Langkah Haji Kamaluddin bukan sekadar aksi sosial, tapi ia sedang menanam benih untuk masa depan. Ia ingin dari tanah itu tumbuh ilmu, tumbuh doa, dan tumbuh amal jariyah yang akan terus mengalir bahkan setelah tubuhnya tak lagi ada.

Dalam dunia yang serba tergesa dan materialistik, keputusan seperti ini adalah oase yang menyegarkan. Ia tidak menunggu jadi miliarder untuk berbagi. Ia tidak menunggu dipuja sebelum memberi. Ia hanya ingin bermanfaat. Dan itu cukup membuatnya menang.

Banyak orang ingin dikenang karena kekuasaannya. Tapi Haji Kamaluddin akan dikenang karena kebaikannya. Ia tahu, harta akan habis, jabatan akan berakhir, tapi “amal akan hidup lebih lama dari umur manusia itu sendiri”.

Teladan seperti ini semestinya tak berhenti di sini. Ia harus menular, menjadi inspirasi, menjadi percikan yang menyalakan semangat baru dalam kehidupan sosial kita. Agar kita tak lupa, bahwa keberhasilan hidup tak hanya diukur dari apa yang kita miliki, tapi dari “apa yang kita tinggalkan untuk orang lain”.

Semoga tanah wakaf itu menjadi lahan tumbuhnya generasi yang cerdas dan berakhlak. Dan semoga kebaikan Haji Kamaluddin menjadi cahaya abadi. Menerangi jalan banyak orang menuju kehidupan yang lebih bermakna.

“Ia tak menyisakan warisan, Tapi mewariskan kebaikan yang tak pernah padam. Ia berharap dari tanah ini, akan tumbuh ilmu, Doa, dan amal jariyah abadi.”

Dia telah menebar kebaikan di ujung usianya. Tapi bagaimana dengan kita, aku, kamu, dan dia yang masih diberi waktu? Sudahkah kita berbuat sebaik itu, atau masih sibuk dengan diri sendiri?


Tajuk Rencana insetgalusnews ini disusun berdasarkan wawancara langsung dengan narasumber dan informasi yang diperoleh hingga tanggal publikasi. Pandangan yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan refleksi redaksi dan tidak dimaksudkan untuk tujuan komersial atau politis. Redaksi berkomitmen menjaga akurasi, integritas, dan nilai-nilai jurnalistik dalam setiap publikasi.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:51 WIB

Jalan Blangkejeren-Kutacane Kembali Longsor, Pengguna Jalan Diminta Waspada

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:42 WIB

42 Santri Al Bunayya Ikuti Haflah Takrim, Karmilawati Tuntaskan Hafalan 30 Juz

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:24 WIB

Peringati Tahun Baru Islam, Santri Bunayya Tampilkan Tari Saman Cilik dan Raih Penghargaan Prestasi

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:55 WIB

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:29 WIB

Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi

Senin, 25 Mei 2026 - 12:13 WIB

Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:01 WIB

Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:11 WIB

Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan