KAMBOJA | insetgalusnews.com | Pemerintah Kamboja menggelar upacara serentak di seluruh negeri, Minggu (13/7) untuk merayakan pengakuan UNESCO terhadap tiga situs bekas rezim Khmer Merah sebagai Warisan Dunia. Perayaan ini menjadi bentuk penghormatan atas transformasi situs-situs tersebut dari pusat penindasan menjadi tempat perdamaian dan refleksi sejarah.
Ketiga situs yang dimaksud adalah Penjara Tuol Sleng dan ladang pembantaian Choeung Ek di Phnom Penh, serta Penjara M-13 di Provinsi Kampong Chhnang. Ketiganya resmi diinskripsi sebagai “Situs Peringatan Kamboja: Dari pusat penindasan menuju tempat perdamaian dan refleksi” dalam pertemuan UNESCO di Paris, Jumat lalu (11/7).
“Ini adalah contoh bagi dunia, memperlihatkan perjuangan panjang Kamboja, rekonsiliasi, semangat persatuan nasional, pencarian keadilan bagi para korban, dan upaya membangun perdamaian,” ujar Menteri Kebudayaan sementara, Hab Touch.
Pengakuan ini menjadikan situs-situs Khmer Merah sebagai warisan dunia kelima milik Kamboja. Ini juga menjadi nominasi era modern pertama dari negara tersebut, dan termasuk yang pertama secara global yang terkait dengan konflik masa kini.
Situs-situs ini menjadi pengingat kelam atas kekejaman rezim Pol Pot antara tahun 1975 hingga 1979, di mana diperkirakan 1,7 hingga 2,2 juta orang tewas akibat kelaparan, penyiksaan, maupun eksekusi.
Penjara Tuol Sleng, yang dulunya menahan sekitar 15.000 tahanan, kini difungsikan sebagai museum genosida yang menjadi saksi bisu sejarah gelap Kamboja.
insetgalusnews | Reuters


































